Menu Tutup

Saat Boyongan dari Pesantren, Ini Lho Tugas yang Menanti Santri di Masyarakat

DatDut.Com – Seorang santri yang baru lulus pesantren atau sudah pulang ke kampungnya, maka biasanya sudah diincar untuk beberapa tugas keagamaan. Ini khususnya terjadi pada santri yang diketahui lama menetap di pesantren.

Mereka ibarat orang baru pulang dari belanja di pasar dan ditunggu keluarga di rumahnya. Pulang atau boyongan dari pesantren, maka ditunggu orang. Apa sih “belanjaan” atau “oleh-oleh” dari nyantri sekian lama.

Bukan pekerjaan komersial bukan pula lowongan perusahaan, tapi tugas keumatan yang biasanya banyak menuntut keikhlasan. Namun untuk tugas itulah justru para santri mempersiapkan diri dan mental.

Selain memikirkan nanti ketika di kampungnya akan menekuni pekerjaan apa, lulusan pesantren juga memikirkan nanti akan memberikan apa pada orang-orang di kampungnya.

Nah, mulai dari yang ringan-ringan dan sepele saja, apa sih tugas yang biasa disodorkan kepada para santri saat sudah boyongan? Oh ya, kadang meski belum boyongan, saat liburan mudik pun mereka mendapat tugas seperti ini. Berikut ini beberapa tugas yang biasa dilakoni santri saat baru pulang kampung.

1. Jadi Muazin Dulu, Lama-lama Jadi Mantunya Mbah Modin

Bagi santri umum pulang dari pesantren minimal dituntut bisa adzan yang enak didengar. Yang kami maksud santri umum adalah santri yang bukan merupakan anak seorang kiai atau ulama di kampungnya. Anak orang biasa, orang umum. Bagi sebagian santri dituntut meramaikan kegiatan keislaman di majid desanya. Paling awal soal shalat jamaah.

Nah urusan shalat jamaah inilah, si santri biasanya ditugasi untuk azan. Kadang, meski tak dimandati untuk menyerukan panggilan azan, karena di kampungnya belum ada jamaah full 5 waktu, si santri lah yang beriinisiatif menghidupkan jamaah shalat lima waktu.

Mbah modin atau pak modin adalah sebutan untuk tokoh agama Islam di kampung. Ada yang bilang bahwa kata modin merupakan singkatan dari bahasa arab imamuddin (pemimpin agama).

Seorang modin biasanya orang yang dituakan atau dianggap paling alim. Kalau kebetulan mbah modin punya putri, ya kalau beruntung dan lagi jodohnya, si santri tukang azan bakalan naik derajat jadi mantunya mbah modin.

2. Ngajar TPQ Dulu, Baru Mikir Soal Istri

Seberapa mendalamnya ilmu yang digali di pesantren, seorang santri saat pulang kampung belumlah dianggap apa-apa. Lebih-lebih jika di desanya masih banyak orang tua yang alim.

Maka bukan mengajarkan ilmu nahwu, membacakan kitab ini dan itu, tugas paling awal seorang santri dimulai dari yang paling dasar. Mengajari anak-anak baca Alquran.

Kalau di desanya belum ada lembaga semacam TPQ, maka disitulah lahan dakwah si santri. Berawal dari mengajar anak-anak satu, dua orang dan seterusnya, si santri mengawali karis dakwahnya. Ini terlebih bagi santri yang saat pulang dari pesantren belum langsung menikah. Mikirin anak-anak dulu, baru dapatin ibunya anak-anak.

3. Sesekali Mewakili Imam Tahlil Juga

Biasanya jamaah tahlil seminggu sekali di desa sudah mempercayakan posisi imam pada orang-orang tua. Maka para lulusan pesantren yang relatif masih muda tetap menjaga posisi sebagai jamaah dan “orang baru”.

Kalau sudah ketahuan dan terukur keilmuannya oleh kiai atau mbah modin yang memimpin jamaah, barulah sesekali si santri mendapat kepercayaan menggantikan posisi sang imam saat berhalangan.

Berawal dari menggantikan posisi saat berhalangan inilah masyarakat akan menilai dan merasakan cocok tidak cocoknya mereka dengan santri tersebut. Kalau mereka tertarik dan suka, barulah suatu saat kang santri dapat tugas menjadi salah satu imam jamaah. Bergiliran dengan mbah modin yang merasa sudah kian tua.

4. Bukan Langsung Jadi Dai Pas Peringatan Hari Besar Keagamaan, Paling-paling Jadi Qori’

Meskipun saat di pesantren selalu juara pidato dan kadang diundang ceramah, para santri baru lulus ya tetap jadi orang biasa. Pulang dari pesantren nggak langsung pamer sertifikat atau piagam juara pidatonya.

Paling-paling dia akan bergabung dalam panitia kegiatan hari besar keagamaan. Entah peringatan maulid nabi, isra’ mi’raj, ataupun lainnya. Karena dikenal sebagai lulusan pesantren, tugas yang paling sering diemban seorang santri adalah menjadi qori’ atau pembaca ayat suci Alquran.

Repotnya kalau waktu di pesantren tidak belajar atau memang tidak bisa qiroah, ataupun suaranya tergolong pas-pasan. Cuma cukup untuk bekal adzan. Tilawah dengan lagu khusus ini menjadi momok bagi santri non qiroah.

Solusinya, kini sudah mulai ngetren membacakan ayat Alquran dengan tilawah bebas. Cukup bermodal suara merdu tanpa harus ikut aturan nada naik turun ala Haji Muamar, qiroah ala tilawah ini jadi pilihan dan solusi santri semacam ini. Hehehe

5. Nggak Langsung Jadi Khotib Jumat, Paling-paling Jadi Bilal/Muadzin

Soal khutbah jumat di kampung juga sama dengan tahlilan. Biasa dipercayakan kepada para sesepuh. Bagi OAB (orang alim baru) semacam santri harus jaga adab dan tahu diri.

Mereka akan mengawali menerima tugas sebagai bilal atau muadzin saat jumat. Untuk mejadi khatib biasanya mereka enggan atau sungkan dengan orang yang lebih tua.

Itulah beberapa tugas awal yang biasa menyambut para santri saat baru pulang kampung. Di luar semua hal tersebut, saat telah pulang dari pesantren, para santri juga dituntut untuk mengembangkan diri dan bekerja.

Berbeda dengan jebolan perguruan tinggi yang mengandalkan ijazah sarjana untuk mencari pekerjaan, para santri cenderung terbuka dan bisa berposisi mengerjakan apa saja. Memang di pesantren, santri diajari untuk siap berposisi di manapun dan tidak menargetkan pekerjaan tertentu. Masing-masing akan menyesuaikan bakat dan kemampuannya.

 

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *