Menu Tutup

Hasil Investigasi Lira Banten: Kasus Saeni Disetting untuk Agenda Terselubung

DatDut.Com – Kalau dulu media bisa semena-mena memberitakan apa pun. Framingnya pun bisa sesuka hatinya, sesuai dengan kepentingan pemiliknya. Fakta bisa diputarbalikkan sedemikian rupa, sesuai misi media itu.

Tapi, seiring meningkatnya kesadaran dan kecerdasan masyarakat, media tak lagi bisa seenak hati dalam memberitakan. Dalam kasus-kasus sensitif dan menyedot perhatian publik, masyarakat mulai tak percaya begitu saja apa yang diberitakan media. Mereka mulai mencari tahu sendiri, bahkan menginvestigasi sendiri objek yang diberitakan.

Kini masyarakat melalui jurnalisme warga cenderung tidak percaya, apalagi bila berita itu berasal dari media-media tertentu yang memang dari awal memiliki misi dan tendensi tertentu. Bila masyarakat sudah merasa ada kejanggalan dan ketidakadilan, mereka akan membuat informasi pembanding yang biasanya memang bisa berbeda sekali dengan yang diberitakan media.

Semakin banyak informasi pembanding dari warga, itu menandakan bahwa ada realitas semu yang dihadirkan oleh media tersebut. Nah, dalam kasus warteg Saeni, ternyata banyak informasi pembanding dari warga yang menunjukkan perbedaan yang signifikan dengan yang dihadirkan media tertentu yang selama ini getol memberitakan kejadian ini.

[nextpage title=”Hasil Investigasi Lira Banten”]

Hasil Investigasi Lira Banten

Salah satu informasi pembanding itu datang dari Novis Sugiawan S.Sos.i, Ketua Umum Pemuda Lira DPW Banten. Berikut informasi yang merupakan hasil investigasinya seperti yang dilansirnya di akun Facebooknya:

Malam ini saya bersama tokoh masyarakat mengunjungi salah satu warung makan Bu Saeni, yang sedang menjadi berita nasional dan berimbas kepada isu pencabutan perda syariah. Kebetulan saya tinggal di lingkungan Cikepuh, Kota Serang, Banten. Jarak antara rumah saya dengan warteg yang dirazia Satpol PP hanya berjarak 50 meter. Malam ini kami bertemu Pak Alex, suami dari Bu Saeni.

Saya meminta klarifikasi beliau antara fakta yang terjadi dengan isu yang beredar di masyarakat. Bu Saeni memiliki 3 warteg di Kota Serang: Cikepuh, Tanggul, Kaliwadas. Satu tempat warteg Bu Saeni ada yang disewa 7.5 juta per tahun. Ada juga yang kurang lebih sampai 10-15 juta per tahun. Untuk ukuran usaha, ini tergolong usaha menengah karena beliau mampu mengelola dengan baik, dan tidak bisa juga dikatakan usaha kecil seperti yang diberitakan.

Saya mencoba investigasi kebenaran berita yang beredar. Saya menemukan fakta dan saksi bahwa pada saat razia berlangsung Bu Saeni diminta salah satu oknum media untuk menangis histeris seolah-olah terzalimi dan terkesan Satpol PP mengacak-acak dagangannya.

Padahal faktanya Satpol PP menyita semua makanan dan berharap Bu Saeni datang ke kantor Satpol PP untuk pembinaan dan pengarahan, untuk tidak membuka warung sesuai waktu yang ditetapkan Pemkot Serang, yaitu sekitar pukul 16.00 WIB dan seluruh makanannya dikembalikan.

Namun Bu Saeni tidak datang ke kantor Satpol PP. Selang beberapa hari kemudian Bu Saeni di-setting oleh oknum awak media, beliau sakit dan terbaring di kasur yang tergeletak di lantai dan kumuh, seolah-olah jatuh miskin dan tak punya apa-apa. Padahal 2 wartegnya masih aktif berjualan.

Media (tertentu) mem-blow up seolah-olah Bu Saeni terzalimi oleh razia Satpol PP karena penegakan Perda syariah, sehingga ada juga settingan provokasi awal untuk penggalangan dana sehingga masyarakat luas mengikuti penggalangan dana atas dasar kemanusiaan karena tindakan kejam Pemkot atas penegakan syariat Islam di bulan Ramadan. Dari sini saya mengambil kesimpulan bahwa ini adalah settingan oknum yang ingin Perda syariah dicabut.

Menurut pengakuan Pak Alex dana yang terkumpul kata seseorang koordinator penggalangan dana sebesar 200 jutaan lebih, namun yang diterima hanya 172 juta rupiah. Lalu, kemana sisanya? Pak Alex menuturkan sisanya kata pengkoordinirnya untuk membantu warung-warung yang kena razia juga.

Saya agak mikir di sini, benarkah uangnya untuk membantu yang lain? Atau dinikmati oleh segelintir orang? Yang penting harus ada kejelasan laporannya. Dan isu yang terakhir berkembang adalah isu pengusiran Bu Saeni dari kampung Cikepuh. Isu ini juga tidak dapat dibenarkan, karena sampai saat ini Bu Saeni masih tinggal di wartegnya. Hanya diberi peringatan oleh warga agar jangan membuka warung di siang hari. Apabila masih buka, maka warga tidak mengizinkan tinggal di wilayah Cikepuh.

Jadi, saya ingin meluruskan (beberapa hal):

1. Bu Saeni bukan orang susah seperti yang diberitakan.
2. Tidak ada pengusiran oleh warga Cikepuh terhadap Bu Saeni.
3. Bu Saeni disetting oleh oknum media untuk menjadi batu loncatan agenda terselubung.
3. Adanya kesengajaan isu nasional untuk mencabut Perda-perda syariah di seluruh wilayah Indonesia.
4. Ini adalah proxy war yang dibuat oleh kelompok-kelompok tidak bertanggung jawab sehingga memecah belah NKRI dan khususnya umat Islam.

 

Baca Juga: