Menu Tutup

Walaupun Dibilang Bidah, 5 Hal Positif Ini Membuat Jamaah Yasinan Harus Dilestarikan

DatDut.Com – Soal dalil pendukung akan baiknya tradisi yasinan, baik yasinan sepekan sekali, ataupun yasinan kondisional kebutuhan maupun yasinan kematian sudah tak layak diperdebatkan. Juga tak perlu jadi bahan menonjolkan diri paling sesuai sunah Nabi.

Karena selain memang pengamal yasinan dan tahlilan sudah banyak yang mengerti akan dalil kebolehannya, perdebatan terbukti tidak selesai dengan sekadar menunjukkan argumen dan dasar masing-masing. Karena pada dasarnya kelompok antiyasinan banyak yang tetap berpedoman kalau tidak sama dengan fahamnya adalah salah dan sesat.

Nah, bagi Anda yang mengamalkan yasinan dan tahlilan, tak perlu kendor dan surut hanya karena vonis bidah, sesat dan sebagainya. Kalaupun Anda belum atau tidak paham dasar argumen dan hujjah, maka hal-hal positif berikut ini merupakan alasan kuat kenapa Anda harus tetap yasinan.

Lima hal positif ini tentu akan hilang musnah jika kegiatan seperti jamaah yasinan dihapus dari masyarakat. Ujung-ujungnya akan muncul pula acara kumpul-kumpul model lain untuk mempermudah mendapat hal positif itu. Apa saja hal positif yang mengharuskan jamaah yasinan dipertahankan? Ini ulasannya.

1. Menjalin dan Menguatkan Silaturahmi

Tak diragukan lagi bahwa tradisi saling berkunjung atau silaturahmi penting untuk menguatkan hubungan sosial kemasyarakatan. Tapi kesibukan masing-masing orang tentu akan menyulitkannya untuk mengatur waktu untuk sekedar berkunjung ke tetangga ataupun saudara di lingkungan. Maka jamaah yasinanlah solusinya.

Tradisi yasinan yang masih kuat dan terjaga di kalangan muslim pedesaan telah membuktikan bahwa yasinan dan tahlilan yang diadakan sepekan sekali menjadi ajang bertemunya orang se-lingkungan. Berkumpul dan saling sapa. Kalau tidak ketemu di jamaah yasinan, memangnya kita sempat seminggu sekali keliling kampung atau Rt dan Rw untuk sekedar silaturahmi?

2. Menjaga Kerukunan Antarwarga

Setelah jalinan antar warga kian kuat dengan pertemuan sepekan sekali terwujud, maka kerukunan antarwarga, khususnya sesama muslim tentu akan terjaga. Hadir tidaknya seseorang dalam jamaah yasinan juga bisa menjadi ukuran orang tersebut mau bermasyarakat atau tidak.

Dalam masyakarat yang majemuk, tentu tidak semua sama tingkat kesalihannya, tidak sama taraf ekonominya. Dengan adanya kegiatan yasinan, maka sekat-sekat dalam masyarakat bisa dikikis meskipun tidak bisa habis.

3. Menjaga Tradisi Gotong Royong

Jamaah yasinan juga menjadi salah satu cara untu melestarikan tradisi gotong royong atau salig membantu. Tradisi ini kian menonjol ketika yasinan dan tahlilan berkaitan dengan musibah kematian. Dan, inilah yang luput dari perhatian dan pembahasan orang-orang yang gemar membidahkan yasinan kematian.

Dalam yasinan kematian, para tetangga dan handai taulan bahu membahu membatu tuan rumah yang terkena musibah. Mereka membawa berbagai bahan makanan. Mereka juga yang sibuk memasak bahan makanan itu. Tapi akhirnya makanan yang telah masak akan disedekahkan kepada para jamaah yasin yang sekaligu bertakziah atas nama sedekah keluarga mayit.

Berbeda dengan sumbangan saat hajatan, sumbangan para tetangga dan saudara saat kematian cenderung lebih ikhlas dan tak mengharap balas. Tak ada buku catatan nama-nama penyumbang layaknya dalam resepsi pernikahan. Bahkan pada sebagian kejadian, tuan rumah bukannya kekurangan hingga harus hutang, tapi malah mendapat kelebihan bahan makanan yang disumbangkan oleh para tetangga.

4. Menguatkan Tradisi Saling Bersedekah

Tradisi saling bersedekah dalam yasinan biasanya dilakukan oleh para ibu di bagian dapur. Ketika tetangga mendapat giliran ketempatan yasinan, biasanya para ibu akan membantu dan membawa bahan makanan ala kadarnya.

Karena sifatnya ala kadar, biasanya hal itu akan diingat-ingat oleh tuan rumah. Nanti ketika tetangga yang membantu tadi mendapat giliran yasinan, tuan rumah yang tadi dibantu juga akan tergerak membantu tetangganya tadi.

Tradisi saling sedekah juga diwujudkan dengan mengirim aneka kue atau jajanan kepada sanak dan tetangga. Jadi selain masak makanan dan kue untuk suguhan jamaah yasinan, tuan rumah juga mengirimkan kue untuk saudara dan tetangga terdekat.

Hal ini akan dijaga dengan saling membalas kiriman kue. Tidak mewah, tapi nilainya yang mulia. Jangan dikira kue yang dikirim adalah kue-kue mahal dan rumit. Paling-paling kerupuk singkong, kue nagasari maupun pisang goreng.

5. Mempermudah Penyampaian dan Sosialisasi Informasi

Perkumpulan yang dilakukan rutin dan terbuka tentu memudahkan pihak aparat desa untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat. Tanpa harus repot-repot mengadakan pertemuan, mengadakan rapat di balai desa, jamaah yasinan adalah tempat strategis untuk menyampaikan informasi.

Tanyakan saja pada mahasiswa yang pernah KKN di pedesaan yang ada jamaah yasinannya.  Kalau mau sosialisai dan lebih dekat dengan masyarakat pasti jamaah yasinanlah jawabannya.

Karena sangat strategis inilah, jamaah yasinan juga sering diisi pengajian oleh ulama atau tokoh agama setempat. Mengkaji hal-hal keagamaan yang sering dilakukan sehari-hari semisal hukum-hukum tentang bersuci, salat dan sebagainya.

Bahkan menjelang pemilu tak jarang jamaah yasinan juga menjadi sasaran tempat kampanye para calon. Baik calon DPR maupun calon lainnya.

Bahkan meski dari partai yang simpatisannya cenderung antiyasinan, tak ketinggalan menjadikan yasinan sebagai ajang kampanye gampang. Caranya, bisa datang langsung, bisa juga memberi bantuan buku terjemahan yasin dan tahlil. Plus bonus gambar dan biografi si calon yang nampang di buku yasin dan tahlil.

Baca Juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *