Menu Tutup

Kasihani Kami, Pak Menteri! (Surat Terbuka Bikin Baper untuk Mendikbud yang Baru)

DatDut.Com – Kebijakan sekolah seharian (full day school) yang digulirkan oleh Mendikbud yang baru, Prof. Dr. Muhajir Effendi, menimbulkan pro-kontra. Ada yang setuju, tapi tak kurang juga yang keberatan. Beberapa hari belakangan publik disuguhi berbagai pendapat terkait hal ini. Salah satunya dalam bentuk surat terbuka seperti di bawah ini:

Bapak Menteri yang terhormat, yang sampai sekarang rasa hormat saya tak pernah saya lunturkan sedikit pun. Bapak, nama saya Wawan. Tinggal di daerah pelosok Bogor, yang mana amat sepi sekali, Pak. Kalau Anda ke sini, hutan pun masih lebih ramai, daripada kampung saya.

O iya, saya bukan mau membahas itu. Sama sekali bukan. Saya bercerita tadi, hanya untuk perkenalan saja, dan bukan minta Pak Menteri kasihani. Karena, sedari kecil ayah saya mengajarkan untuk tak meminta belas kasihan dari orang lain.

Pak Menteri, saban hari saya mendengar di beberapa media massa, kalau Pak Menteri ingin membuat kebijakan baru. Kebijakan yang menggantikan sistem Bapak Menteri sebelumnya. Kalau tidak salah, namanya full day school. Betul begitu bukan, Pak?

Menurut saya, berpendapat boleh saja, apalagi mengusulkan kebijakan. Sangat boleh. Karena, kita hidup di Indonesia, negara yang amat demokratis, Pak. Tetapi, ada baiknya sebelum membuat kebijakan dipikirkan dengan matang pak. Berpikir sebelum bertindak.

Maaf, Pak, bukan mau sok menasihati. Sekali lagi saya tegaskan, tidak sama sekali berniat seperti itu. Saya tau, Bapak pasti amat terpelajar, dan pastinya lebih pintar daripada orang kampung seperti saya ini. Saya, hanya rakyat kecil yang ingin “sedikit” berbicara.

Begini, Pak, bukan saya ingin “berontak”, atau apa pun itu sebutannya. Tetapi, Indonesia bukan hanya Jakarta saja. Kalau Pak Menteri masih keukeuh ingin menerapkan sistem itu, saya mohon batalkan saja. Batalkan dengan landasan kasihan. Kasihani saya dan yang lain. Kasihani saya, yang selama ini “haram” untuk dikasihani oleh ayah saya.

Bapak tidak tahu, kalau semisalkan peraturan itu benar Bapak terapkan, dan dijadikan sistem belajar saya dan anak lain di Indonesia, maka saya tidak bisa membayangkan betapa akan kacaunya sistem ini berjalan. Bapak, Indonesia bukan hanya tentang Jakarta. Masih banyak anak lain yang bersekolah dengan segala keterbatasanya.

Bukan hanya saya, tapi bagaimana dengan nasib Matius di Maluku sana. Yang mana, untuk berangkat sekolah saja harus menumpang kapal nelayan setempat. Dan, untuk kembali lagi harus menumpang lagi dengan kapal yang sama. Menyeberangi lautan puluhan kilometer, yang kapalnya pun hanya ada sampai sore.

Bagaimana juga dengan Saduri dari Kalimantan, Pak, yang harus melewati sekolah dengan berjalan puluhan kilo, menyisiri hutan rimba yang banyak bahaya mengintai. Bahkan, untuk melewatinya butuh waktu amat lama. Coba pikirkan lagi pak.

Pak Menteri yang terhormat, insya Allah saya tidak akan menjadi nakal, bandel, apalagi menantang orangtua saya, Pak. Walaupun sekolah saya tidak “sepanjang hari”. Ayah saya, tidak bisa menjemput saya jika pulang terlalu sore. Beliau, hanya seorang buruh tani yang bekerja dari pagi hingga sore. Melantahkan tulang punggung nya untuk memenuhi kehidupan keluarganya.

Sedangkan, Pak, sore hari kalau di daerah Wawan hanya ada angkot hingga jam 2 saja. Tidak ada yang bisa menjemput saya. Setelah selesai sekolah, Wawan juga harus membantu ibu di rumah, membantunya mengantarkan kue untuk dititipi di warung-warung tetangga. Sekali lagi, untuk memenuhi kebutuhan hidup kami.

Bapak Menteri yang terhormat. Kalau Bapak membaca surat ini, tolong jadikan alasan “kasihan” untuk membatalkan kebijakan bapak. Saya mohon, atas nama saya sebagai warga negara Indonesia. Terima kasih.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.