Menu Tutup

Darurat JIL, Waspadai 5 Rukun Islam Liberal Ini!

DatDut.Com – Kaum liberal, utamanya dalam Jaringan Islam Liberal, selalu berisik menyuarakan pemahaman nyleneh atas berbagai fenomena keislaman. Begitu isu LGBT menghangat kembali, mereka pun menyambut dengan semangat. Maka kembali kita dengar pendapat-pendapat aneh yang sebenarnya sudah lama mereka suarakan.

Apa pun cara kita menjawab argumen kaum liberal terkait pemikiran dan pernyataan mereka yang selalu nyleneh dan menentang arus, jikalau itu menggunakan dalil agama pada akhirnya tidak akan mempan. Kenapa? Karena mereka selalu anti terhadap berbagai hal yang beraroma doktrin agama.

Paham liberal yang memang bersumber dan diadopsi dari Barat tidak lepas dari sikap awalnya sebagai penentangan dan pembebasan dari doktrin agama. Menurut Kholili Hasib, kebangkitan paham liberal di Barat berawal dari trauma hegemoni gereja, masalah pada teks Bible atau Injil, dan problem doktrin trinitas dalam Kristen. Liberalisme yang awalnya adalah upaya perlawanan dan pemberontakan terhadap doktrin Kristen yang diselewengkan oleh kaum gereja, pada akhirnya diupayakan untuk membongkar ajaran Islam pula.

Kembali ke tidak bergunanya dalil agama untuk menjawab celotehan kaum liberal, hal itu terjadi karena mereka telah pula mempunyai “doktrin agama” ala liberal. Saya sebut saja itu sebagai Rukun Islam Liberal. Lima prinsip ini adalah kesimpulan simpel berdasar berbagai pemikiran yang muncul dari tokoh dan simpatisan JIL. Cara bicara orang liberal biasanya rumit kebanyakan teori pemikiran dan njlimet untuk menunjukkan tingginya level pendidikan mereka. Ujung-ujungnya tak jauh dari merendahkan Islam. Gampangnya, pendapat mereka tidak akan jauh dari 5 rukun Islam liberal berikut ini:

[nextpage title=”1. Semua Agama Benar”]

1. Semua Agama Benar

Pikiran pokok ini lahir dari pluralisme agama yang merupakan langkah dari dekontruksi atau pembongkaran akidah. Berdalih toleransi, kaum liberal mendangkalkan keyakinan muslim.  Mereka mengharuskan muslim untuk toleransi, tetapi dengan versi mereka. Tidak boleh meyakini Islam sebagai yang terbaik dan paling benar.

Setelah menganggap semua agama benar, pemikiran mereka masih merambah lebih jauh dengan mencetuskan pendapat bahwa apa pun agamanya layak untuk dikatakan beriman.

[nextpage title=”2. HAM adalah Segalanya”]

2. HAM adalah Segalanya

Dengan alasan Hak Asasi manusia (HAM), Islam Liberal mengajak dan menyuarakan kajian ulang terhadap berbagai hukum syariah. Sayangnya, HAM dipaksakan menjadi dalil paling liar yang dipakai. Demi HAM, Islam liberal menghalalkan hal-hal yang telah disepakati keharamannya oleh segenap umat Islam. Nikah lintas agama, mengkritik hukuman-hukuman pidana dalam Islam, bahkan menghalalkan pernikahan sejenis. Semuanya demi “tuhan” baru yang bernama HAM.

[nextpage title=”3. Alquran Produk Budaya dan Tak Selalu Benar”]

3. Alquran Produk Budaya dan Tak Selalu Benar

alah satu sasaran Konten yang sesuai adalah meningkatkan keterlibatan pengguna. PPS laman Anda dan metrik lainnya mungkin terpengaruh oleh peningkatan ini. Alquran Tak Selalu Benar

Alquran yang memang baru dikumpulkan dalam satu mushaf pada masa khalifah Usman bin Affan menjadi sorotan tersendiri bagi Islam Liberal. Metode hermeneutika adalah idola kaum liberal untuk mengotak-atik ayat-ayat itu sesuka hati dan sesuai keinginan.

Metode interpretasi yang sukses membongkar pemahaman terhadap Injil ini ingin diterapkan kepada Alquran. Tujuannya agar Alquran tidak lagi sakral untuk ditafsirkan siapa pun. Hal itu masih diperparah dengan menyamakan Alquran dengan buku biasa yang tak layak diagungkan. Tak lebih mulia daripada rumput yang bisa diinjak (lihat pernyataan Sulhawi Ruba pada Mei 2006).

Namun hingga kini memang belum ada satu pun suatu buku tafsir berdasarkan metode ini. Tetapi propaganda menuju kesana sudah masif dilakukan sejak lama. Mereka menyatakan bahwa Alquran diragukan keasliannya karena telah tercampuri tangan-tangan manusia saat pengumpulannya. Juga sarat dengan kepentingan politik Khalifah Usman. Antara Alquran sebagai wahyu dan Alquran sebagai mushaf dibedakan. Yang masih berbentuk kalamullah adalah suci dan sakral, sedangkan yang sudah berbentuk mushaf tidaklah sakral dan layak ditafsir ulang sesuai kebutuhan.

Jika sudah demikian, karena Alquran sudah dianggap bukan suci lagi, maka siapa pun boleh menafsirkan Alquran agar sesuai dengan perkembangan zaman. Lihat saja salah satu artikel di website JIL yang menjadikan QS Al-Isra’ ayat 84 sebagai “dalil” bahwa perilaku LGBT diperbolehkan dalam Alquran.

[nextpage title=”TIdak Ada Kebenaran Absolut”]

4. Tidak Ada Kebenaran Mutlak

Rukun keempat ini membuat semua yang telah menjadi hasil ijtihad ulama tak berharga bagi kaum liberal. Karena hasil ijtihad tersebut dianggap sangat mungkin salah. Mereka pun akhirnya merumuskan dan mengusahakan “ijtihad” sendiri dengan menafsirulang berbagai ajaran Islam. Kebenaran hakiki hanya Tuhan yang tahu menjadi propaganda aneh ketika kaum liberal mengajak untuk tidak percaya doktrin.

Semua doktrin agama Islam yang semula dianggap benar, dibongkar ulang dan dipertanyakan kebenarannya. Sayangnya semua itu tidak diikuti solusi dengan menghadirkan “kebenaran” baru sebagai pengganti. Yang ada hanya pemikiran demi pemikiran yang menggugat dan menanamkan keraguan tanpa memberi hal baru. Jadilah kaum liberal itu sebagai jiwa-jiwa yang terombang-ambing dalam kebebasannya.

[nextpage title=”Agama adalah Urusan Pribadi”]

5. Agama adalah Urusan Pribadi

Prinsip ini lahir dari sekularisme yang memisahkan antara urusan agama dan dunia, dan menjauhkan institusi dan negara dari norma agama. Islam liberal alergi terhadap berbagai simbol agama yang ditampilkan dalam keseharian, seperti jilbab, gamis, penampilan islami.

Dengan prinsip ini pula Islam liberal menganggap pemerintah tak perlu mempertimbangkan hukum positif berdasar agama Islam. Jangankan terhadap formalisasi Islam dengan bentuk negara Islam, memasukkan unsur hukum Islam ke dalam perundang-undangan pun kaum liberal sangat anti. Sebaliknya, mereka berusaha mati-matian untuk memformalisasikan “ajaran” agama mereka dalam hukum negara. Contohnya pelegalan nikah sejenis. Kelihatan kan standar gandanya?

Agama disudutkan untuk ranah pribadi. Tak boleh mencampuri hukum negara, norma pergaulan, dan norma budaya. Endingnya, liberalisme bertujuan untuk membuat masyarakat benar-benar bersih dari simbol dan praktik keagamaan.

Demikian Rukun Islam Liberal yang tersirat dari berbagai pernyataan dan pemikiran nyleneh kaum liberal yang mengatasnamakan Islam. Yang perlu digarisbawahi, pernyataan-pernyataan dan pendapat serta pemikiran kalangan Islam liberal pada dasarnya tidak layak dikaitkan dengan Islam karena melemahkan dan menghancurkan Islam itu sendiri. Selain itu, bagi kalangan yang masih teguh dengan ajaran Islam, pendapat dan pemikiran para aktivis liberal banyak yang sudah menjurus kepada kemurtadan.

Baca Juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *