Menu Tutup

Ini 5 Sikap dan Pernyataan Habib Rizieq yag Menimbulkan Kontroversi di Masyarakat

Datdut.Com- Habib Rizieq merupakan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI). Langkah-langkahnya dalam berdakwah di tengah masyarakat tidak jarang menimbulkan kontroversi di tengah masyarakat.

Beberapa tokoh dan ulama sering dicap liberal bila tidak sependapat dengan pandangan-pandangan penafsirannya atas teks-teks agama. Paling tidak, saya mengamati terdapat 5 kekeliruan dalam penafsiran-penafsiran Habib Rizieq.

1. Amar Makruf Nahi Munkar

Front Pembela Islam (FPI) dikenal sebagai salah satu organisasi masyarakat yang sangat aktif dalam memberantas kemaksiatan. Namun, image sebagian masyarakat menganggap bahwa dakwah FPI tidak jarang berujung anarkis.

Terkait kewenangan amar makruf nahi munakr ini, Ibnu Asyur, Pakar Maqashid Syariah Tunisia, menjelaskan secara mendetail ayat-ayat yang berkaitan dengan amar makruf nahi mungkar. Menurutnya, tugas tokoh masyarakat hanyalah mengajak dan menjelaskan antara yang makruf dan mungkar, bukan menghakimi orang yang diajaknya.

Lebih lanjut, ia berpendapat bahwa hadis yang menyatakan, “Jika di antara Anda melihat kemunkaran, maka cegahlah menggunakan kekuasaannya, atau cukup diajak, atau cukup diinkari dalam hati, dan inilah iman yang terlemah, (H.R. Muslim)” ditujukan kewenangannya untuk pemerintah, bukan individu atau sekelompok organisasi masyarakat. Hal ini, menurutnya, untuk menghindari timbulnya anarkisme dalam berdakwah yang mencoreng nama Islam.

2. TV9 Murahan

Sebagaimana dikutip dari habibrizieq.com, Imam Besar FPI pernah menyatakan bahwa TV9 merupakan televisi murahan. Pasalanya, saat ia sedang live ceramah yang disiarkan TV9, tiba-tiba tayangannya terputus dan diganti dengan tayangan iklan.

TV9 merupakan salah satu televisi lokal yang berpusat di Surabaya yang memiliki slogan Santun Menyejukkan, sebagaimana dikutip dari laman facebook TV9. Saat itu TV9 langsung memutus siaran live tersebut, karena Rizieq Shihab mendiskriminasikan Islam Nusantara yang diangkat sebagai jargon NU.

3. Islam Nusantara

Seperti dikutip dari laman habibrizieq.com pada (04/11/2015), Habib Rizieq tidak setuju dengan gagasan Islam Nusantara. Imam Besar (FPI) ini menyebut Islam Nusantara dengan istilah Aliran Nusantara (ANUS).

Menurutnya, ANUS merupakan agenda propaganda Liberal dengan wajah baru yang memanfaatkan isu pribumisasi Islam dan kearifan lokal. Hal tersebut, tambahnya, bertujuan untuk menabrakkan antara Islam dan tradisi masyarakat setempat.

Bila kita cermati, gagasan Islam Nusantara menjadi ramai dibicarakan publik semenjak muktamar NU di Jombang pada (09/15) lalu. Salah satu ulama yang mendukung gagasan Islam Nusantara adalah Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. K.H. Ali Mustafa Yaqub.

Namun, beliau menegaskan bahwa Islam mentolerir budaya-budaya masyarakat yang tidak bertentangan dengan syariat (baca: 5 fatwa Imam Besar Masjid Istiqlal Bercorak Islam Nusantara).

4. Menyalahkan Bacaan Alquran Langgam Jawa

Pembacaan Alquran dengan langgam Jawa sempat booming saat Muhammad Yaser Arafat mementaskan qiraahnya pada acara Isra Mikraj di Istina Negara (05/15), seperti dikutip dari laman republika.co.id. Hal ini pun mengundang kontroversi banyak pihak. Salah satu yang menentang bacaan Alquran langgam Jawa adalah Habib Rizieq.

Menurutnya, orang-orang yang mendukung bacaan Alquran langgam Jawa adalah liberal, sebagaimana dikutip dari habibrizieq.com. Dalam laman tersebut, disebutkan beberapa tokoh yang membolehkan bacaan Alquran langgam Jawa dan sekaligus dibantah oleh Imam Besar FPI ini.

Seperti dikutip dari situs mui.or.id, menurut K.H. Dr. Ahsin Sakho Muhammad, pakar Qiraah lulusan Arab Saudi, membaca Alquran dengan langgam Jawa sangat diperbolehkan. Saat ini, lanjutnya, hanya baru ada tujuh seni dalam membaca Alquran, Bayyati, Shoba, Nahawand, Hijaz, Rost, Sika, dan Jiharka.

Langgam Jawa dapat memperkaya seni baca Alquran, menurutnya, dengan catatan menjaga tajwid, seperti panjang pendek dan makhrajnya.

5. Menolak Non-Muslim sebagai Pemimpin

Habib Rizieq sangat menentang keras non-Muslim menjadi pemimipin di Indonesia ini. Sasaran empuk yang selalu menjadi perhatian Pentolan FPI ini adalah Gubernur DKI Jakarta saat ini, Basuki Cahya Purnama, alias Ahok.

Menurut Rizieq, dalam habibrizieq.com (28/09/14), Menurutnya, yang boleh menjadi pemimpin di negara ini hanyalah muslim, karena hal tersebut sesuai dengan UUD 1945 alinea ketiga.

Ibnu Asyur, dalam tafsir at-Tahrir wa at-Tanwir, menegaskan bahwa pelarangan muslim memilih pemimpin nonmuslim dibenarkan ketika ditakutkan terjadi diskriminasi terhadap orang-orang Muslim. Saat ini kita bisa mengkritik dan menolak pemimpin-pemimpin yang melakukan diskriminasi terhadap umat Islam. Wallahua’lam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.