Menu Tutup

Inilah 5 Keunikan Muhadharah (Dai Idol) ala Pesantren

DatDut.Com – “Sampaikanlah dariku meskipun hanya satu ayat.” Demikian hadis riwayat Bukhari yang menjadi motivasi muslim untuk berdakwah. Dalam praktiknya, penyampaian ajaran Islam selain dengan tulisan juga harus dengan lisan. Pidato, orasi, khutbah, dan sejenisnya menjadi sarana untuk menyampaikan ajaran-ajaran rasulullah secara lisan. Dalam sejarah perjuangan Rasulullah pun, pidato dan orasi menjadi bagian penting dari dakwah beliau. Misalnya saat Rasulullah menyeru kaum Quraisy dari atas Bukit Shafa.

Sebagaimana metode dakwah lainnya, pidato juga menuntut kemampuan khusus. Seorang dai, khatib mupun orator harus menguasai berbagai teknik dan materi yang disampaikannya. Selain itu, mental pun sudah harus terlatih dan teruji untuk bisa dan berani berbicara di hadapan orang banyak. Meskipun materi telah matang dikuasai, tanpa mental yang terlatih penyampaian materi tersebut bisa kacau dan jauh dari harapan.

Pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam yang mempersiapkan santri untuk berjuang dan menyebar ajaran Islam lewat berbagai metode juga tak lupa membekali santri dengan kemampuan pidato. Acara muhadharah, ada juga yang memakai istilah khitabah, di pesantren memiliki keunikan tersendiri daripada latihan pidato di luar pesantren. Ia lebih mirip seperti dai idol ala pesantrenSuasana, karakter massa dan sifat keseharian santri melahirkan suhu latihan yang berbeda. Sebatas pengalaman dan pengamatan di pesantren putra, berikut ini 5 keunikan latihan pidato di pesantren.

1. Bukan Mendengar Hikmah

Sebagai acara latihan, muhadharah santri bukanlah ajang untuk menyampaikan maupun mendengar kalam hikmah dari sesama santri. Bagaimanapun bobot materi pidato yang disampaikan, tidak menjadi hal terpenting dalam acara ini. Santri yang menonton pun tidak bisa dikatakan sebagai mustami’in atau pendengar, tetapi saat itu mereka justru adalah para komentator massal dan pencemooh berjamaah.

Antara pesantren satu dengan lainnya tidak sama dalam hal ini. Setidaknya itu yang saya temui. Ada pesantren yang santrinya dikondisikan untuk tidak meledek rekan yang maju berpidato. Dalihnya adalah untuk menghargai usaha orang lain. Tapi melihat hasilnya, santri yang terbiasa berpidato dalam suasana tak karuan ternyata lebih mampu menguasai massa ketika berpidato di hadapan khalayak yang sebenarnya.

2. Penggemblengan Mental

Di pesantren yang acara muhadharah-nya dalam suasana semrawut, acara muhadharah benar-benar menjadi ajang penggemblengan mental berpidato. Santri yang maju ke podium dituntut untuk tetap menyampaikan materi yang telah dipersiapkan meskipun suasana tidak kondusif.

Santri yang biasanya santun dalam keseharian, saat acara latihan pidato bisa berubah menjadi urakan dan berceloteh sesukanya. Santri yang masih beberapa kali berpidato biasanya akan runtuh mentalnya begitu menghadapi gemuruh suara yang mengiringinya maju menuju mimbar ataupun tempat khusus. Bisa bisa ia hanya mampu mengucap salam pembuka, hamdalah, lalu salam penutup.

3. Mengasah Keberanian

Keberanian santri dalam suasana latihan pidato yang seperti itu juga diasah sedemikian rupa. Terlebih pada pesantren yang memberi kesempatan acara muhadharah bersama antara santri putra dan santi putri. Suasana akan lebih seru dan keberanian kian ditempa untuk sekedar maju menyampaikan beberapa baris hadis. Sebagian santri putra lebih semangat kalau acara muhadharah berupa latihan bersama dengan santri putri. Meskipun hanya akan beroleh gojlokan membahana, santri model ini berani maju meski sekedar “penampakan” sekejap saja.

4. Ulah Massa dalam Latihan Pidato

Memangnya seperti apa saja ulah massa santri saat acara muhadharah? Kembali mengacu pada pesantren yang santrinya terkondisikan untuk urakan saat latihan pidato, ulah santri bisa beragam. Yang paling ringan adalah sorak sorai menjatuhkan mental pembicara. Yang paling berat kalau sudah ada ulah ekstrim dengan melempar-lemparkan sarung, peci atau barang ringan lain ke arah pembicara.

Kalau pidato bertempat di ruang terbuka, misalnya halaman masjid, kadang malah penonton membawa berbagai alat musik sederhana untuk menambah ramai sorak sorai. Derigen, galon, dan kaleng adalah alat musik bising santri untuk menjatuhkan mental pembicara di podium.

Ada juga ulah ekstrim dengan menarik-narik sarung atau menggoyang-goyang podium. Ini biasanya kalau latihan di tingkat asrama yang hanya melibatkan warga asrama saja.

Terkait materi pidato, kalau ada kesalahan sedikit saja yang tertangkap massa, maka suasana kian ramai. Kadang para santri putra ramai-ramai bersorak, “Turun, turun, turun!!” Kalau pembicara kelihatan bingung dan cemas, sorakan berganti menjadi, “Nangis, nangis, nangis!!”

5. Diamnya Massa, Ukuran Keberhasilan

Dengan suasana sedemikian runyamnya, para santri yang belajar pidato dituntut untuk menebalkan telinga agar tak terpengaruh celoteh para penonton, menguatkan mental agar mampu menyampaikan materi yang direncanakan, dan menebalkan perasaan agar tak sakit hati mendengar ocehan dan cemoohan. Lebih baik dihina dan dicemooh waktu di pondok, daripada nanti saat pulang dicemooh masyarakat, begitu prinsipnya.

Ukuran keberhasilan santri dalam acara muhadharah adalah diamnya massa mendengarkan pidatonya. Kalau penonton sudah tak berceloteh lagi, tak menyoraki, hanya tinggal satu dua ocehan mengomentari isi pidato, berarti si santri sudah berhasil menguasai massa santri. Biasanya, santri yang berhasil mencapai level mendiamkan massa santri seperti ini, kelak saat telah pulang bisa menjadi dai yang mumpuni.

nasrudin maimunNasrudin | Kontributor tetap DatDut.Com

FB: Nasrudin El-Maimun

Baca Juga: