Menu Tutup

Menag: Mahasiswa Indonesia di Luar Negeri Jangan Kehilangan Jati Diri

DatDut.Com – Belum lama ini Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Dunia menyelenggarakan Simposium Internasional dengan mengangkat tema “Memperteguh Identitas Bangsa Indonesia” yang berlangsung di Auditorium Muhammad Abduh, Al Azhar University, Kairo, Mesir.

Simposium internasional yang berlangsung dari 24 – 31 Juli ini, dihadiri oleh sekitar 300 peserta perwakilan pengurus PPI dari 46 negara, baik Timur Tengah, Eropa, Amerika, Australia, Pasifik, maupun Afrika.

Simposium ini juga menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain: Mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Mahfudz MD dan Imam Besar Masjid Istiqlal Nasaruddin Umar. Selain itu, hadir juga sebagai narasumber, Yudi Latief, J Kristiadi, dan Dubes RI untuk Cairo Hilmi Fauzi

Seperti dilansir oleh situs kemenag.go.id, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin memberikan sambutan sekaligus membuka acara tersebut. Menag berpesan agar mahasiswa Indonesia tidak melupakan tugas utamanya, yaitu mencari ilmu. Menag mengingatkan agar mereka tidak kehilangan orientasi selama belajar di luar negeri.

“Saya menekankan agar kita jangan kehilangan orientasi ketika berada di negara orang, karena satu dan lain hal. Jadi memperdalam ilmu itu penting dan mudah-mudahan bisa selesai tepat waktu,” demikian pesan Menag. “Negara menanti kehadiran saudara untuk lebih konkrit memberikan kontribusi dalam mengembangkan bangsa,” tambahnya.

Hal kedua yang dipesankan Menag kepada mahasiswa di luar negeri adalah keberadaan mereka sebagai duta bangsa. Menurutnya, ada nama Indonesia pada diri setiap mahasiswa yang belajar di negara orang. “Kita adalah duta bangsa, maka sedapat mungkin tetap menjaga nama baik Indonesia. Segala tindakan dan perbuatan kita, hendaknya dalam rangka menjaga dan memelihara nama baik itu, syukur syukur bisa mengharumkan nama baik Indonesia,” pesannya.

Menag berharap, PPI bisa menjadi wadah bersama mahasiwa Indonesia yang berada di luar negeri dalam belajar berorganisasi dan berhimpun. Tidak hanya wadah berinteraksi dalam keragaman dan pluralitas, PPI juga menjadi ruang diskusi dan penyamaan persepsi dalam menyikapi sebuah persoalan dan mencari pemecahannya secara bersama-sama.

“Sebesar, sekeras, dan setajam apa pun perbedaan, tidak harus menyebabkan kita bercerai berai. Justru keragaman itulah yang perlu dimaknai sebagai anugerah dan berkah agar kita memiliki berbagai macam opsi dan pendekatan dalam menyelesaikan permasalahan,” pesannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.