Menu Tutup

Gak Perlu Mengkavling Surga bagi Non-Muslim! Ini Penjelasan Ibnu Katsir dan ath-Thabari

DatDut.Com – “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam …,” (Qs. Ali Imran [3]:19). Inilah ayat yang menjadi landasan keyakinan setiap muslim bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang paling benar, diridhai Allah, dan dijamin masuk surga jika terjaga hingga akhir hayat. Keyakinan semacam ini terpatri dan diyakini setiap muslim.

Di sisi lain, dalam interaksi sosial dengan non-Muslim, umat islam juga dituntut agar bersikap toleran dan menghormati keyakinan mereka. Dalam kondisi damai, umat Islam harus mengedepankan sikap saling menghargai, tidak memaksakan dakwah, dan tidak mencela keyakinan orang lain.

Janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan…,” (Qs. Al-An’am [6]:108). Penjelasan ayat ini sebagaimana penafsiran ath-Thabbary terhadap ayat di atas dalam tafsirnya, juz 12, h. 33.

Dalam menyuarakan sikap toleransi ada sebagian orang yang menafsirkan ulang ayat-ayat Alquran dan menghasilkan kesimpulan bahwa klaim surga hanya bagi muslim justru dibantah sendiri oleh Alquran. Pemikiran ini akhirnya memberikan kesimpulan bahwa syarat masuk surga hanyalah amal shalih tanpa harus menjadi muslim.

Asumsi tersebut kalau dalam ranah menjaga  kerukunan antar umat beragama, bisa jadi benar. Namun dalam lingkup akidah, tafsiran tersebut cenderung mengikis akidah dan liberal. Hampir pasti setiap agama mengklaim pasti masuk surga, sedangkan orang yang tidak seagama tidak akan masuk surga.

Keyakinan seperti ini paling menonjol dalam agama Islam dan Kristen. Dibuktikan dengan gencarnya dakwah atau upaya perekrutan umat. Islamisasi maupun Kristenisasi merupakan bukti kuat bahwa masing-masing mengklaim sebagai yang masuk surga, sehingga harus mengajak orang yang tak seagama agar masuk agama tersebut.

Namun, kesimpulan bahwa klaim surga hanya bagi umat Islam terbantah oleh Alquran sendiri, merupakan suatu kesimpulan yang gegabah. Karena justru ayat-ayat Alquran menguatkan keyakinan bahwa syarat utama masuk surga haruslah beriman kepada utusan Allah yang terakhir, yaitu Nabi Muhammad Saw. yang artinya harus menjadi muslim. Firman Allah Swt:

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan Dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi,” (Qs. Ali Imran [3]:85).

Qs. Al-Baqarah: 62, dan al-Maidah:69 sering dijadikan dasar untuk mengatakan bahwa semua orang baik Muslim, Nashrani, Yahudi dan orang-orang yang tak beragama sekalipun, jika beriman dan beramal shalih maka akan beroleh pahala dan surga.

Ini merupakan pemikiran yang rancu dan menyelisih para mufasir yang muktabar. Ath-Thabbary, setelah menjelaskan pengertian kata alladzina hadu, an-nashara, dan ash-shabi’in, dalam tafsirnya menjelaskan tafsiran ayat tersebut dengan gamblang.

Beliau menjelaskan bahwa من آمن بالله واليوم الآخر adalah penyempurnan إن الذين آمنوا والذين هادوا والنصارى والصابئين. Saya tambahkan bahwa man amana adalah khabar dari kata inna. Selanjutnya dijelaskan bahwa dalam من آمن بالله واليوم الآخر ada kata minhum yang tidak disebutkan karena telah cukup jelas oleh runtutan kalam.

Sehingga makna utuh ayat tersebut adalah, “Sesungguhnya orang-orang mukmin, orang-orang Yahudi, orang-orang Nasrani dan orang-orang Shabiin, siapa saja diantara mereka yang benar-benar beriman kepada Allah …dst.

Lebih luas dijelaskan bahwa imannya orang Yahudi, Nasrani dan shabiin adalah dengan mengikuti agama yang dibawa Muhammad Saw. Sedangkan keimanan mukmin (yang sudah muslim) adalah dengan menetapi keimanannya.

Maka, siapa saja dari mereka yang beriman dengan Muhammad Saw., dan ajaran yang dibawanya, beriman pada hari akhir, beramal shalih, lalu ia tidak mengganti dan mengubah keimanannya itu hingga akhir hayatnya dengan menetapi keimanan tersebut, maka baginya pahala amal baik disisi Tuhan (lihat Tafsir ath-Thabbary, juz 2, h. 148-149).

Keharusan para penganut agama selain Islam untuk turut beriman kepada ajaran Nabi Muhammad dipertegas dalam Ali Imran:81-82, “Dan (ingatlah), ketika Allah mengambil perjanjian dari para nabi, “Sungguh, apa saja yang aku berikan kepadamu berupa kitab dan hikmah kemudian datang kepadamu seorang Rasul yang membenarkan apa yang ada padamu, niscaya kamu akan sungguh-sungguh beriman kepadanya dan menolongnya.”

Allah Swt. berfirman, “Apakah kamu mengakui dan menerima perjanjian-Ku terhadap yang demikian itu?” Mereka menjawab, “Kami mengakui”. Allah berfirman, “Kalau begitu saksikanlah (hai para nabi) dan aku menjadi saksi (pula) bersama kamu. Barang siapa yang berpaling sesudah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”

Menjelaskan ayat ini, Ibnu Katsir menukilkan berbagai riwayat yang memuat pengertian bahwa perjanjian para nabi tersebut mengharuskan mereka untuk mengikuti Nabi Muhammad apabila ia telah diutus saat mereka masih hidup dan menjumpainya.

Ali bin Abi Thalib dan Abdullah bin Abbas berkata, “Tidaklah Allah mengutus seorang nabi dari para nabi melainkan Allah ambil perjanjian darinya, bahwa jikalau Allah telah mengutus Muhammad, sedang nabi itu masih hidup, maka ia harus beriman pada nabi Muhammad dan menolongnya. Dan Allah perintahkan kepada nabi tersebut agar mengambil perjanjian kepada umatnya, bahwa jika Muhammad telah diutus, lalu mereka masih hidup, maka mereka harus beriman dan menolongnya.

Imam Ahmad berkata, Abdurrazaq menceritakan kepada kami; dari Jabir; dari asy-Sya’bi; dari Abdullah bin Tsabit. Umar datang kepada Rasulullah Saw. dan berkata, “Rasululah, saya bertemu saudaraku dari Bani Quraidzah, ia menuliskan untuk kumpulan-kumpulan kalam dari kitab Taurat. Bolehkah saya tunjukkan kumpulan itu kepada Tuan?”

Abdullah bin Tsabit mengatakan bahwa air muka Rasulullah seketika berubah. Abdullah bin Tsabit lantas berkata kepada Umar, “Tidakkah Anda lihat perubahan wajah Rasulullah?” Umar lalu berkata, “Kami rela dengan Allah sebagai Tuhan, dengan Islam sebagai agama, dan dengan Muhammad sebagai rasul.”

Lalu, seketika wajah Rasulullah kembali cerah. Beliau bersabda, “Demi Tuhan yang jiwaku dalam genggaman-Nya, seandainya ada Musa as. di antara kalian kemudian kalian mengikutinya dan meniggalkanku, niscaya kalian tersesat. Kalian adalah bagian untukku dari umat-umat, dan aku adalah bagian untuk kalian dari para nabi.

Ibnu Katsir mengutipkan pula hadis hasan yang juga diriwayatkan oleh al-Bazzar, Ahmad, ad-Darimi, dan Abu Ya’la. Dari Jabir r.a., Rasulullah bersabda, “Jangan tanyakan sesuatu kepada ahli kitab, sungguh mereka tidak akan menunjukkan kalian sedangkan mereka telah tersesat. Dan sungguh mereka adakalanya membenarkan kebatilan atau mendustakan kebenaran. Sungguh, Demi Allah, jikalau Musa hidup diantara kalian, niscaya ia hanya boleh mengikutiku,” (lihat Ibnu Katsir, juz 2, h. 68).

Adapun hadis Nabi “Janganlah kalian mencaci maki Waraqah bin Naufal karena saya telah melihatnya di dalam surga” (Jalal al-Din al-Suyuti, al-Jami’ al-Shagir, hal. 200) yang juga diriwayatkan oleh al-Hakim, tentu saja tidak bisa menjadi landasan pendapat masuk surga tidak harus muslim. Karena Waraqah bin Naufal telah menyatakan akan menolong Nabi Muhammad saat kaumnya nanti mengusirnya. Dalam artian ia telah siap beriman bila masih hidup saat Muhammad mendakwahkan ajarannya.

Hal itu tersirat dari kata-kata Waraqah, sebagaimana dalam Shahih Bukhari. Ketika Nabi dan Khadijah berkunjung untuk menceritakan kejadian yang dialami Rasulullah saat awal turunnya wahyu.  Usai mendengar kisah dari Muhammad, Waraqah berkata “Itu adalah an-Namus yang dulu datang kepada Musa. Duhai seandainya saat itu nanti aku masih kuat. Seandainya waktu itu tiba aku masih hidup. Waktu ketika kaummu mengusirmu.”

“Apakah aku akan diusir?” sahut Rasulullah Saw. “Iya. Tidak seorang pun yang datang dengan apa yang datang kepadamu kecuali dimusuhi. Jika aku mendapati hari itu, aku akan menolongmu sekuat tenaga,” jawab Waraqah. Selang beberapa waktu, Waraqah meninggal, dan wahyu terhenti. (HR. al-Bukhari, juz 1, h. 4, dan Muslim, juz 1, h.139).

Pemikiran bahwa syarat masuk surga hanyalah amal shalih tanpa harus menjadi Muslim pada akhirnya bertentangan dengan ayat Alquran sebagaimana penjelasan diatas. Dan, tafsiran sebagian “mufasir” kontemporer demi sikap toleransi ternyata berbenturan dengan ayat Alquran sendiri dan penafsiran Rasulullah serta sahabat sebagaimana telah diriwayatkan oleh ath-Thabbary.

Wa akhiran, menyuarakan toleransi antar umat beragama tak perlu sampai mengikis akidah dan menafsir ulang kitab suci dengan penafsiran menyimpang. Sebagai muslim, kita yakini bahwa syarat masuk surga bagi umat manusia setelah risalah Muhammad Saw. adalah harus ikut ajaran Islam.

Sebagaimana pula umat Kristen yang juga meyakini bahwa untuk selamat harus ikut ajaran yang mereka anut. Sikap berlebihan dengan berkoar-koar bahwa non muslim pasti neraka itulah yang salah dan harus dibenahi. Karena, pada akhirnya, selamat dan tidak selamat kita nantinya akan ditentukan saat meninggal, apakah dalam khusnul khatimah ataukah justru su’ul khatimah.

Baca Juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *