Menu Tutup

Jaga Kesehatan Otak Anda dari Virus Hoax! Ini 5 Langkah Sederhana Mencegah Peredarannya

DatDut.Com – Indonesia sudah darurat hoax. Berita bohong, fitnah dan pemelintiran fakta bertebaran utamanya di media sosial, baik Twitter, Facebook, Instagram maupun lainnya. Berita klarifikasi menyebar selambat siput sedangkan berita hoax menyebar secepat kecepatan cahaya.

Seperti yang sering terlihat, berita bombastis, sesuai kecenderungan pandangan politik maupun keagamaan, akan segera di-share hingga ribuan hingga puluhan ribu kali, sementara klarifikasi dan pelurusan hanya akan di-share oleh sekian ratus atau ribuan orang saja.

Padahal yang namanya bohong, dusta, fitnah jelas-jelas dilarang agama dan membahayakan keselamatan negara dan bangsa sendiri.

Sangat disayangkan dan layak dipertanyakan jika ada pemahaman keagamaan yang menghalalkan dusta atas nama dakwah. Bagaimana mungkin ajaran agama yang suci harus menggunakan jalan dusta yang hina untuk menyebarkannya?

Kelompok, aliran, organisasi maupun pemahaman keagamaan manapun yang terbiasa menggunakan hoax dan pemelintiran fakta disertai mengklaim kebenaran serta menuduh berita yang tak sama sebagai hoax juga, layak diragukan kebenarannya.

Sayangnya banyak orang masih mudah percaya terhadap berita-berita kurang jelas. Itu diperparah dengan klaim-klaim kebenaran yang justru mengiringi beredarnya berita hoax.

Nah, beberapa langkah sederhana berikut ini sebaiknya Anda lakukan agar tak memperparah keadaan. Jika tak mampu menghilangkan dan memberantas habis sumber-sumber hoax dan fitnah, maka menahan diri dengan langkah-langkah berikut ini adalah lebih baik.

[nextpage title=”1. Biasakan Baca Berita secara Utuh, Jangan Judulnya Saja”]

1. Biasakan Baca Berita secara Utuh, Jangan Judulnya Saja

Sejak kecenderungan orang lebih ke media online ketimbang membaca media cetak, maka berbagai situs dan blog berlomba menyajikan berita dengan judul semenarik mungkin.

Parahnya, tak hanya media online biasa, media besar pun kadang terlalu keluar topik ketika membuat judul. Masih ingat tentang penyitaan ketapel menjelang Aksi Bela Islam III?

Dengan isi berita yang sama, judulnya bisa melenceng jauh. Apalagi sebagian blogger nakal yang memburu visitor demi recehan dollar. Judul berita mereka bisa penuh pancingan emosi untuk pembaca.

Sayangnya, banyak orang yang kurang teliti dan hanya membaca judul saja langsung share berita. Bahkan pernah berita lama digunakan untuk mencaci pemerintah tentang kasus baru. Karena itu biasakan baca berita secara utuh. Jika terlihat antara judul dan isi beritanya tidak nyambung, lebih baik tidak usah disebarkan.

[nextpage title=”2. Berpikir Kritis Lebih Baik Ketimbang Terkagum-kagum atau Terkejut”]

2. Berpikir Kritis Lebih Baik Ketimbang Terkagum-kagum atau Terkejut

Kritis bukan berarti buruk sangka dan salah. Jangankan orang yang tak Anda kenal, orang terkenal pun bisa salah paham dan salah sangka terhadap suatu berita. Contoh paling mudah adalah kisah penjual roti dalam aksi 212 yang sempat viral sebelum ada klarifikasi dari pihak perusahaan.

Berpikir kritis terhadap berita paling dasar adalah dengan mengamati apakah berita itu lengkap dalam menjelaskan 5W+1H (What, who, why, when, where + how). Apa, siapa, kenapa, kapan, dimana dan bagaimana kejadiannya.

Pesan berantai dalam media sosial yang sering diawali dengan copas dari sebelah, dapat dari WA, jika terkait isu sensitif lebih baik tidak dipercaya. Kalau hanya sekedar kisah motivasi, cerita, dan candaan mungkin masih wajar saja dan tidak terlalu jadi masalah.

Jika isu yang Anda terima berupa berita dengan meme/gambar dengang tulisan, maka cobalah kritis terhadap gambar yang digunakan dan pernyataan yang tertera.

Untuk gambar bisa ditelusuri dengan Google Image. Sedangkan untuk suatu pernyataan dalam meme bisa ditelusuri dengan tanda petik di mesin pencari. Cara paling mudah adalah dengan bergabung ke grup-grup anti hoax.

[nextpage title=”3. Hadapai dengan Akal, Bukan dengan Emosi dan Ego”]

3. Hadapai dengan Akal, Bukan dengan Emosi dan Ego

Membaca berita, isu dan klaim yang beredar di medsos hendaknya dengan akal bukan dengan emosi dan kebencian terhadap kubu yang berseberangan, apalagi ego merasa paling benar. Baik berita tentang kelompok yang berseberangan dalam hal ideologi maupun pilihan politik.

Melihat berita atau cerita yang viral, cobalah berpikir kritis apakah berita yang Anda dapati itu masuk akal, dan benar terjadi? Terlebih dengan berita yang menyudutkan kelompok, orang, ataupun ormas yang berseberangan dengan Anda.

Pada poin ini banyak orang yang gagal. Jika berita miring terkait kelompoknya, maka dengan segera memvonisnya sebagai hoax dan fitnah. Menyuruh orang-orang harus tabayun dulu.

Tapi jika berita negatif itu menguntungkan kelompoknya dan menyudutkan kelompok lain, maka hal itu dianggap kebenaran mutlak.

Sampai-sampai salah satu komik dalam Sketsa Islam Kita menyindir fenomena hoax berat sebelah ini dengan kata, “Hoax adalah berita yang merugikan kelompok kami, sedang fakat adalah berita yang menguntungkan kelompok kami.

[nextpage title=”4. Biasakan Tonton Video Utuh dan Memahami”]

4. Biasakan Tonton Video Utuh dan Memahami

Tak beda dengan judul berita atau artikel, banyak orang yang enggan menonton video yang disebar dengan caption tertentu. Penyebabnya bisa macam-macam. Mungkin alasan paling umum adalah hemat kuota dan cukup percaya pada di penulis status. Dan ini yang sering kami temukan di berbagai hoax yang pernah terbongkar.

Para selebritis sosmed dengan follower ribuan hingga puluhan ribu saat mengunggah video dengan caption provokatif, kebanyakan para pengikut langsung percaya, like dan bagikan tanpa tahu isi videonya benar atau tidak.

[nextpage title=”5. Jika Tak Mengerti Kebenarannya, Maka Menahan Diri adalah Lebih baik”]

5. Jika Tak Mengerti Kebenarannya, Maka Menahan Diri adalah Lebih baik

Inilah langkah paling dasar agar terhindar dari kesesatan berita dan tidak memperburuk keadaan. Rasulullah bersabda, “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah dia berkata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari & Muslim).

Begitupun juga dalam ber-medsos. Jika tak mampu meneliti kebenaran berita, tak bergabung dalam komunitas anti hoax, lebih baik menahan diri dari membagikan informasi yang belum Anda mengerti sendiri.

Baca Juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *