Menu Tutup

Ini 5 Wasiat K.H. As’ad Syamsul Arifin untuk Para Santri

DatDut.Com – K.H. Raden As’ad Syamsul Arifin lahir di Mekah pada tahun 1897. Konon, pada usianya yang ke-11, ayahnya membawa As’ad kecil kembali ke kampung halamannya, Madura, Jawa Timur, dan tidak lama setelah itu pindah ke Asembagus, Situbondo, Jawa Timur.

Kontribusi Kiai As’ad untuk bangsa Indonesia sangat besar sekali. Beliau pernah mengomandoi Laskar Hizbullah dan memimpinnya bergerilya di daerah Besuki dan sekitarnya pada tahun 1945. Beliau merupakan pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukerojo, Situbondo, Jawa Timur. Beliau wafat pada 4 Agustus 1990.

Nah, ada 5 wasiat yang beliau titipkan untuk dipahami dan diamalkan dengan baik oleh para santri, seperti dikutip dari Muslimedianews.com. Berikut uraiannya:

1. Jangan Keluar dari NU

Kiprah Kiai As’ad berjuang membela negara melalui tidak diragukan lagi. Menurut Syamsul A. Hasan, seperti dikutip dari Antaranews.com, Kiai As’ad termasuk salah satu ulama yang berperan penting merumuskan Resolusi Jihad bersama K.H. Hasyim Asyari.

Poin keempat Resolusi Jihad berbunyi, “Umat Islam, terutama Nahdlatul Ulama wajib mengangkat senjata melawan Belanda dan kawan-kawannya yang hendak kembali menjajah Indonesia.”

Usai rapat Resolusi Jihadi, Kiai As’ad menggerakkan ulama-ulama dan warga Sampang, Pamekasan, dan Sumenep untuk ikut berjihad melawan penjajah. Karena andilnya yang besar dalam NU ini, Kiai As’ad berpesan pada para santrinya agar selalu berpegang dengan ajaran-ajaran NU.

Bahkan beliau mewanti-wanti santrinya yang keluar dari NU, “Santri Sukerejo yang keluar dari NU, jangan berharap berkumpul dengan saya di akhirat.” Mungkin yang dimaksud Kiai As’ad itu keluar dari amaliah yang menjadi kultur warga NU.

2. Khidmah pada Umat

Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Orang terbaik di antara kalian itu mereka yang paling bermanfaat untuk sesama.” Nah, rupanya hadis ini betul-betul ditanamkan Kiai As’ad pada para santrinya.

Buktinya, beliau berwasiat agar para santrinya berkhidmah untuk umat. Paling tidak, Kiai As’ad menekankan dalam tiga aspek, yaitu pendidikan Islam, dakwah melalui NU, dan ekonomi masyarakat.

Menurut Kiai As’ad, santri Kiai As’ad yang alim tapi tidak memikirkan atau mengeluarkan hartanya untuk khidmah umat, pasti hidupnya tidak akan mendapatkan kesempurnaan. Namun sebaliknya, walaupun santri beliau bodoh dan miskin, tapi masih mau memikirkan untuk khidmah pada umat, maka hidupnya akan bahagia.

3. Istikamah

Istikamah itu sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen dalam mengerjakan sebuah aktivitas. Para ulama salih menyebutkan bahwa istikamah itu lebih baik daripada seribu karamah, sementara karamah hanya dapat dicapai dengan cara istikamah.

Dalam istilah tasawuf, karamah dikenal sebagai suatu anugerah dan kelebihan yang Allah berikan pada para kekasih-Nya. Karamah itu bisa berupa banyak hal, seperti menyembuhkan penyakit yang sulit disembuhkan, berjalan di atas air, menghilang, dan lain sebagainya.

Walaupun demikian, tujuan kita istikamah janganlah hanya semata mengharapkan sesuatu anugerah tersebut. Biarkan Allah yang memilihkan anugerah apa yang pantas untuk kita, dan setelah itu dapat kita gunakan untuk kemaslahatan umat. Karena pentingnya istikamah, Kiai As’ad berpesan agar para santrinya tidak meninggalkan mengistikamahkan membaca Ratib al-Haddad.

4. Jujur, Giat, dan Ikhlas

Kiai As’ad juga berpesan agar para santrinya selalu bersikap jujur, bekerja dengan giat, dan ikhlas dalam mengerjakan apa pun. Bila santrinya mengamalkan tiga prinsip ini, beliau menjamin mereka akan selamat dan jaya dalam hidupnya. Bahkan, Kiai Asad juga menganggap semua orang yang mengamalkan tiga prinsip tersebut sebagai santrinya, walaupun tidak pernah nyantri di pesantren beliau.

5. Pendirian yang Teguh

Santri yang berkarakter itu mereka yang memiliki pendirian teguh dalam mengamalkan dan menyebarkan nilai-nilai kebaikan yang telah didapatkan dari pesantren. Selain mengamalkan ilmu yang telah didapatkan dari pesantren, santri juga harus bisa mengajak masyarakat melakukan kebaikan. Inilah yang disebut dengan ilmu bermanfaat.

“Santri saya yang pendiriannya tidak sama dengan saya, saya tidak ikut bertanggung jawab di hadirat Allah Swt.,” demikian salah satu wasiat Kiai As’ad. Keempat poin sebelumnya merupakan beberapa pendirian Kiai As’ad yang harus dilaksanakan para santri.

harisPenulis : Ibnu Kharish | Penulis Tetap Datdut.com

Fb : Ibnu Harish

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.