Menu Tutup

Ini 5 Fakta Keterlibatan Muslimah Prancis dengan ISIS

DatDut.Com – Ketertarikan Muslim bergabung dengan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) di antaranya didasari pada kemuakan mereka terhadap hegemoni dunia Barat atas negara-negara Islam. Hal ini diperparah dengan lengahnya lembaga-lembaga keimigrasian negara-negara Barat atas bergabungnya warga mereka bersama ISIS.

Orang-orang yang terlibat dalam ISIS tidak hanya masyarakat awam yang tidak mengenal Islam sama sekali. Prof. Dr. Hassan Ko Nakata, Guru Besar Universitas Doshisha, Jepang, menyatakan berikrar pada Khalifah Abu Bakar al-Baghdadi di Irak, seperti dikutip dari Muslimedianews.

Sebelumnya, Ko Nakata ini, merupakan tokoh yang dijadikan rujukan para syabab Hizbut Tahrir Indonesia (HTI). Namun, ketika semua orang menganggap negatif ISIS, secara perlahan HTI meninggalkan Ko Nakata. Itulah standar ganda yang sering dilakukan HTI.

Ketertarikan bergabung dengan ISIS tidak hanya diminati kaum pria saja, kaum perempuan pun dengan suka rela bergabung menyatakan setia dengan ISIS. Lefigaro.fr melakukan wawancara (14/12/15) dengan Géraldine Casutt, Peneliti Jihad Universitas Fribourg, Suis, terkait keterlibatan Muslimah Prancis dengan ISIS. Berikut ulasannya.

1. Keterlibatan Mereka karena Faktor Keluarga

Menurut Cassut, motif lelaki maupun perempuan yang ikut bergabungan dengan ISIS itu sama. Umumnya, mereka yang bergabung dengan ISIS adalah anak-anak muda. Faktor keluarga menjadi salah satu yang fundamental.

Gadis-gadis Muslim Prancis beranggapan bahwa peran ayah terhadap keluarga mereka sangat minim. Mereka mendambakan sosok ayah yang “islami” yang dapat melindungi para gadis Prancis tersebut. Hal ini diperparah dengan siklus kehidupan Prancis yang bebas.

Para remaja di Prancis tidak sama seperti halnya di Indonesia. Sejak SMA mereka sudah dibiasakan hidup terpisah dari orangtua, belajar mencari uang. Selain itu, mereka juga dituntut untuk tetap sekolah. Karenanya Anda jangan aneh, para pelayan di toko-toko kebanyakan adalah remaja yang umumnya adalah mahasiswa.

2. Keterlibatan Mereka karena Faktor Depresi

Para remaja Prancis depresi melihat lingkungan sekitar yang bebas dan bertentangan dengan Islam. Menurut mereka, bergabung dengan ISIS satu-satunya solusi terbaik Cassut mengumpamakan kehidupan para remaja dan gadis Prancis ini dengan Bonnie dan Clyde. Keduanya berlaku kriminal di Amerika Serikat, mereka merampok SPBU, Bank, dan membunuh orang yang menghalanginya. Akhirnya, mereka mati ditembak oleh pihak keamanan AS.

Meledakkan diri bersama suami dengan menggunakan bom merupakan bentuk yang ideal dan sesuatu yang diharapkan, karena terdoktrin dengan ideologi mati syahid. Ini merupakan dambaan para remaja Prancis yang ikut bergabung dengan ISIS, baik perempuan maupun laki-laki..

3. Hidup di Eropa Tidak Dapat Menjadi Muslim yang Baik

Menurut saya, Islam adalah agama yang fleksibel. Seorang Muslim bebas memilih tempat tinggalnya. Muslim tidak dituntut hidup di negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Namun hal ini tidak demikian dengan para remaja Prancis.

Menurut Cassut, salah satu senjata utama mengajak para gadis Muslim Prancis adalah dengan cara menakut-nakutinya dengan “hantu” Islamopobia. Melalui jejaring sosial, perempuan yang sudah lebih berada di Irak menakut-nakuti bahwa jika mereka masih tetap tinggal di Eropa, maka tidak akan dapat menjadi Muslimah yang baik.

4. Model Perekrutan

Perekrutan perempuan-perempuan Prancis dilakukan dengan cara promosi secara masif melalui media sosial. Para gadis Prancis ini akan dijanjikan menikah dengan pria saleh yang ada di Irak, disediakan apartemen, perabotan rumah tangga. Promosi ini dilakukan oleh para Muslimah yang sudah lebih dulu berada di Irak.

Menurut Cassut, alasan mereka tertipu dan terjerumus tentu tidak masuk akal. Perempuan Prancis sejak Mei 1968 merasakan angin segar kebebasan. Pemaksaan dan penipuan bentuk apa pun seharusnya dikritisi dan diwaspadai.

5. Jumlah Perempuan Prancis yang Bergabung dengan ISIS

Perempuan yang juga Peneliti di l’Ecole des Hautes Etudes en Sciences Sociales (EHESS) ini, mengatakan bahwa para gadis Prancis yang ikut bergabung bersama ISIS berjumlah 197 orang sejak bulan November, dan 83 orang adalah anak-anak kecil. Kebanyakan mereka yang bergabung dengan ISIS berasal dari daerah Sarcelles, daerah pinggiran di Utara Paris.

ibnu kharish1Penulis : Ibnu Kharish | Penulis Tetap Datdut.com

Fb : Ibnu Harish

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.