Menu Tutup

Hujan Salju di Arab Pertanda Kiamat? Ini 5 Faktanya Menurut Achmad Chodjim

DatDut.Com – Hari-hari ini beredar di media sosial adanya hujan salju di Jazirah Arabia. Lalu, banyak orang membuka-buka Hadis, dan ulama di Masjidil Haram juga mengungkap tentang hujan salju. Mereka menemukan hadisnya bahwa hujan salju di Arab merupakan tanda dekatnya Hari Kiamat. Benarkah demikian? Berikut 5 fakta yang wajib Anda tahu versi Achmad Chodjim, penulis buku laris Syekh Siti Jenar, yang saya ambil dari catatan Facebooknya atas seizin Pak Chodjim:

1. Fenomena Biasa 

Banyak orang Islam di dunia, dan hampir seluruh umat Islam di Indonesia, tidak paham akan fenomena hujan salju di Jazirah Arabia. Padahal kalau kita baca nama-nama bulan Hijriyah ada nama Jamad al-Awwal dan Jamad al-Tsani (di Indonesia menjadi Jumadil Awal dan Jumadil Akhir), yang artinya musim salju pertama dan kedua.

Dengan adanya nama-nama musim salju pertama dan kedua, menunjukkan bahwa salju itu sudah biasa turun di Jazirah Arabia, khususnya di daerah di sekitar 30 derajat LU (Lintang Utara), seperti Kota Tabuk, Negara Yordan, dan sekitarnya. Madinah terletak pada koordinat 24, 28 derajat LU. Di sekitar 30 d. LU secara rutin setiap tahun ada salju meskipun sedikit.

Setiap 100 – 200 tahun intensitas saljunya besar, seperti yang terjadi pada Januari 2015 ini, sehingga antara Mekah dan Madinah pun ada sedikit guyuran salju. Hal ini berarti pada zaman dulu bulan Jamad al-Awwal itu berada pada bulan Januari – Februari kalender Masehi.

2. Kalender Hijriah Bergeser Patokannya

Lho, mengapa pada zaman dulu itu ada di bulan Jamad al-Awwal dan sekarang terjadi pada awal Rabi’ al-Akhir (Bakda Mulud)? Kalender Hijriyah yang kita kenal dewasa ini sudah tak dikaitkan lagi dengan peredaran matahari, sehingga bulan-bulan dalam kalender Hijriyah bergeser terus setiap tahunnya terhadap kalender yang berbasis matahari.

Itulah sebabnya 1 Syawal sejak tahun 2014 berada di bulan Juli, yang tahun 2015 pada 18-19 Juli, dan 2016 ini pada 6-7 Juli. Nanti pada 2017 Idul Fitri sudah berada di bulan Juni, 2017.

3. Kalender Arab

Nah, sekarang mari kita ketahui aslinya kalender Arab, khususnya yang berlaku sebelum wafat Nabi Muhammad. Kalender Arab itu berbasis Luni-Solar, yang artinya bertautan dengan peredaran rembulan dan matahari.

Dalam satu tahun terdapat 12 bulan yang terkait dengan peradaran rembulan yang 355/356 hari. Matahari beredar pada garis orbitnya selama 365/365 hari. Dengan demikian tanggal 1 bulan baru dan tahun baru rembulan selalu bergeser pada bulan A dan B berdasarkan peredaran matahari. Berdasarkan riwayat yang terpinggirkan, artinya riwayat yang tidak dianggap sahih, kalender Arab kuno itu bulan baru tahun barunya adalah Shafar yang bertepatan dengan Oktober-November pada setiap tahunnya.

4. Makna Bulan-bulan Hijriah

Berikut nama-nama bulan Hijriah beserta artinya, berdasarkan perhitungan kalender Arab:

1. Shafar (artinya kosong, bila shaafar artinya menguning), bertepatan dengan bulan Oktober-November. Sekarang Shafar sebagai bulan kedua, dan bulan-bulan berikutnya bergeser ketiga dan seterusnya.

2. Rabi’ al-Awwal (musim semi pertama, tumbuh-tumbuhan pada tumbuh ranting atau cabang) bertepatan dengan November – Desember.

3. Rabi’ al-Tsani (musim semi kedua) bertepatan dengan Desember-Jan.

4. Jamad al-Awwal (musim salju pertama) pada Jan-Feb.

5. Jamad al-Tsani (musim salju kedua) pada Feb-Mar.

6. Rajab (artinya musim kawin binatang). Oleh karena itu bulan ini dinyatakan sebagai bulan Haram, yaitu dilarang melakukan perburuan binatang dan peperangan pada bulan ini. Hal ini terjadi pada Mar-Apr.

7. Sya’ban (artinya air sungai mengalir, petani kembali ke kebun) pada bulan Apr-Mei.

8. Ramadhan (artinya panas sinar matahari menyengat), terjadi pada bulan Mei-Jun, matahari mendekati 23,5 d. LU.

9. Syawwal (artinya meningkat panas teriknya), terjadi pada Jun-Jul.

10. Dzu al-Qa’dah (bulan ini orang-orang pada duduk-duduk alias bermalas-malas), terjadi pada Jul-Agu. Pada bulan ini binatang dan ternak pada melahirkan dan menyusui. Maka bulan 10 hingga 12 selama 3 bulan penuh merupakan bulan Haram, yaitu larangan berburu hewan dan larangan berperang.

11. Dzu al-Hijjah (di bulan ini para elite masyarakat Arab melakukan diskusi atau musyawarat untuk mengatasi persoalan yang mungkin timbul di tahun depannya agar kesejahteraan dan kedamaian masyarakat tetap terjaga). Jadi, Haji yang sebenarnya berarti berdiskusi atau bermusyawarat bahkan berdebat dengan berargumentasi untuk menemukan kebenaran. Ini bulan Haram.

12. Muharram (artinya masih terlarang untuk berburu hewan atau berperang). Ini bulan Haram.

5. Soal Bulan Haram

Dengan demikian, dalam satu tahun kalender Arab Kuno yang berdasarkan rembulan-matahari terdapat 12 bulan, di antaranya 4 bulan Haram, yaitu bulan ke-6 (Rajab, sekarang menjadi bulan ke-7), dan 3 bulan berturutan yaitu bulan ke-10, 11, dan 12. Sekarang menjadi bulan ke-11, 12 dan 1.

Oleh karena kalender Hijriyah yang sekarang ini tidak bersendikan luni-solar, dan hanya mengikuti peredaran rembulan, maka wajar bila orang Islam dewasa ini melanggar ke-4 bulan Haram.

Betapa besar dosanya karena berani melanggar ketetapan Allah. Itulah yang dimaksud dalam Q. 9:37:

Sesungguhnya mengundur-undurkan bulan Haram itu adalah menambah kekafiran, disesatkan orang-orang yang kafir dengan mengundur-undurkan itu, mereka menghalalkannya pada suatu tahun dan mengharamkannya pada tahun yang lain, agar mereka dapat menyesuaikan dengan bilangan yang Allah mengharamkannya. Maka mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah. Itu menjadikan mereka memandang baik perbuatan mereka yang buruk itu. Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.

meashaKontributor: Measha | Penulis tetap DatDut.Com
Twitter: @measha

Baca Juga: