Menu Tutup

Hafal Alquran Pun Harus Perhatikan Pesan Nabi dalam 5 Hal Ini!

DatDut.Com – Hafal Alquran 30 juz merupakan karunia yang teramat besar. Harus disyukuri dan dijaga dengan seluruh daya upaya. Syukur sendiri merupakan tindakan memanfaatkan karunia agar sesuai dengan kehendak Sang Pemberi nikmat. Bukan sekadar ucapan hamdalah di lisan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan dan perbuatan.

Di sebagian pesantren dan lembaga pendidikan yang memfokuskan diri pada tahfiz Alquran, terkadang para santri terlena dengan nikmatnya lancar hafalan. Sebagian menjadi enggan untuk menggali ilmu-ilmu agama yang ibaratnya merupakan dahan, cabang, dan ranting kandungan Alquran. Sudah merasa cukup dengan memenuhi undangan untuk mengisi acara khataman dalam rangkaian resepsi.

Sebagai wujud syukur dalam tindakan, 5 hadis berikut ini harus kita perhatikan untuk diamalkan pesan-pesannya. Jangan sampai mejadi hafiz Alquran yang sekadar “rekaman” hidup dari mushaf. Nah, sebagai pengingat bagi diri penulis dan pembaca, berikut lima ulasannya.

[nextpage title=”1. Mudah Hilang”]

1. Mudah Hilang

Kitab Alquran memang unik dan aneh. Unik karena meskipun tebalnya mencapai 600-an halaman, tetapi banyak umat islam yang hafal. Aneh, karena meskipun selancar apa pun hafalan, tidak menjamin akan langgeng tanpa diulang alias tanpa di-murajaah.

Bagi santri, hafalan kitab Alfiyyah Ibnu Malik merupakan bagian berat dan sulit. Tetapi begitu hafal, meskipun ditinggal beberapa lama masih belum hilang dari memori. Beda dengan ayat-ayat Alquran yang biasanya mudah dilafalkan dan dihapalkan namun juga mudah hilang atau lupa.

Karenanya Rasulullah Saw berpesan dalam hadisnya, “Jagalah Alquran. Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, ia mudah terlepas, melebihi unta yang terikat,” (HR Muslim).

Di waktu lain beliau mengumpamakan mudah hilangnya hafalan Alquran sebagai keledai. “Penghafal Alquran itu seperti pemilik keledai yang terikat. Jika dia menjaganya, dia berhasil menahannya. Jika dia melepasnya, niscaya ia pun pergi,” (HR Bukhari).

[nextpage title=”2. Istiqamah Membaca dan Mengulang Hafalan”]

2. Istiqamah Membaca dan Mengulang Hafalan

Sebagaimana disinggung pada poin pertama bahwa hafalan Alquran begitu mudah terlepas, sudah pasti seorang hafiz haruslah tekun mengulang dan membaca hafalannya. Sebagaimana dicontohkan para sahabat nabi, waktu malam banyak mereka pilih untuk membaca Alquran.

Salah satu keluarga sahabat yang terkenal dengan kemerduan bacaan Alqurannya adalah keluarga Abu Musa al-Asy’ari. Sampai-sampai rasulullah pada malam hari sering melewati rumah-rumah sahabat Anshar dan berhenti mendengarkan bacaan mereka.

Dari Abu Musa al-Asy’ari, bahwa Rasulullah Saw. berkata kepadanya, “Tidakkah engkau melihat aku tadi malam, di waktu aku mendengarkan engkau membaca Alquran? Sungguh engkau telah diberi satu seruling dari seruling Nabi Daud,” (HR Bukhari).

Abu Musa al-Asy’ari berkata, Rasulullah Saw. bersabda, “Aku mengenal kelembutan alunan suara keturunan Asy’ari di waktu malam ketika mereka berada dalam rumah. Aku mengenal rumah-rumah mereka dari suara bacaan Alquran mereka di waktu malam, sekalipun aku belum pernah melihat rumah mereka di waktu siang,” (HR Bukhari).

[nextpage title=”3. Syarat Menjadi Ahlullah”]

3. Syarat Menjadi Ahlullah

Allah Swt memuliakan para penghapal Alquran dengan menisbatkan mereka sebagai ahlullah. Keluarga dalam arti sebagai orang-orang khusus disisi-Nya. Namun derajat ahlullah tidak serta merta tercapai hanya dengan hafal saja.

Dalam sebuah hadis, Nabi bersabda, “Allah memiliki orang khusus (Ahliyyin) dari kalangan manusia.” Para shahabat bertanya, “Rasulullah, siapakah mereka?” Beliau menjawab, “Mereka adalah Ahlu Alquran. (Mereka itu) Ahlullah dan orang khusus-Nya,” (HR Ibnu Majah).

Dalam Syarah Ibnu Majah, Imam Suyuthi mengutip dari an-Nihayah, makna hadis tersebut adalah orang-orang yang hafal Alquran dan mengamalkannya. Mereka inilah yang menjadi Ahlullah dan orang pilihan Allah.

Dikutip dalam Faidh al-Qadir, at-Tirmizi berkata, “Keutamaan ini berlaku bagi para pembaca yang telah membersihkan hatinya dari sifat lalai dan menghilangkan dosa pada dirinya. Yang tergolong orang khusus-Nya hanyalah orang yang membersihkan dirinya dari dosa yang tampak maupun tersembunyi, lalu menghiasi dirinya dengan ketaatan. Maka ketika itu, dia termasuk orang khusus Allah.”

[nextpage title=”4. Ancaman bagi yang Menyiakan”]

4. Ancaman bagi yang Menyiakan

Imam Nawawi dalam at-Tibyan fi Adabi Hamalah al-Quran menerangkan bahwa para penghapal Alquran haruslah senantiasa menjaga hapalan mereka agar tidak terkikis dan hilang.

Diriwayatkan dari Anas bin Malik, rasulullah bersabda, “Diperlihatkan kepadaku pahala-pahala umatku hingga pahala seorang yang membuang sampah dari masjid. Diperlihatkan pula kepadaku semua dosa-dosa umatku, maka tidak aku lihat dosa yang lebih besar ketimbang dari satu surat atau ayat Alquran yang dikaruniakan kepada seseorang kemudian ia melupakannya,” (HR Abu Daud).

Lupa hafalan karena kesibukan, sakit sekalipun, menurut mazhab Syafi’i, tetap tergolong dosa besar, sebagaimana diterangkan dalam kitab Nihayatuzzain, 362. Hal itu karena seharusnya hafalan tersebut tetap bisa diulang-ulang meski dalam hati. Berat juga, ya? Apalagi kalau hafalannya belum benar-benar kukuh.

[nextpage title=”5. Jangan Terbawa Faham yang Mengajarkan Mudah Memvonis Syirik”]

5. Jangan Terbawa FPaham yang Mengajarkan Mudah Memvonis Syirik

Selain harus menjaga hafalan, seorang hafiz Alquran juga harus menjaga diri dari paham dan ajaran yang ujung-ujungnya mudah memvonis sesat dan syirik kepada orang lain. Khawatir kalau nanti termasuk dalam golongan yang disebutkan Rasulullah dalam hadisnya.

Dari Hudzaifah, Rasulullah Saw bersabda, “Sesungguhnya yang paling aku khawatirkan atas kamu adalah seseorang yang telah membaca (menghafal) Alquran, sehingga ketika telah tampak kebagusannya terhadap Alquran dan dia menjadi pembela Islam. Dia terlepas dari Alquran, membuangnya di belakang punggungnya, menyerang tetangganya dengan pedang dan menuduhnya musyrik.”

Aku (Hudzaifah) bertanya, “Rasulullah, siapakah yang lebih pantas disebut musyrik? Penuduh atau yang dituduh?” Beliau menjawab, “Penuduhnya,” (HR Bukhari dalam at-Tarikh, Abu Ya’la, Ibnu Hibban dan al-Bazzar.)

Orang-orang seperti inilah yang oleh K.H. Mohammad Nizam As-Shofa disindir dalam Syi’ir Tanpo Waton-nya dengan bait: akeh kang apal quran hadise, seneng ngafirke mareng liyane” (banyak yang hafal Alquran dan hadis, tapi gemar mengkafirkan orang lain).

 

Baca Juga:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *