Menu Tutup

Kenali 5 Ciri Pembeda antara Pesantren Salaf, Modern, dan Salafi

DatDut.Com – Pesantren salaf menurut Zamakhsyari Dhofier, adalah lembaga pesantren yang mempertahankan pengajaran kitab-kitab Islam klasik (salaf) sebagai inti pendidikan. Sistem madrasah ditetapkan hanya untuk memudahkan sistem sorogan, yang dipakai dalam lembaga-lembaga pengajian bentuk lama, tanpa mengenalkan pengajaran pengetahuan umum.

Meskipun dulu kata salaf dan salafi sama dengan salafiyyah untuk penggolongan pesantren, namun semenjak merebaknya ajaran salafi-Wahabi, kata salafi identik dengan faham Wahabi ini. Karenanya, sekarang kalau pesantren yang berbasis NU selalu memakai kata salafiyyah, sementara kata salafi sekarang digunakan untuk pesantren yang berbasis ideologi salafi-Wahabi.

Perbedaan mencolok antara pesantren salaf dengan lainnya (modern dan salafi) adalah pada panggilan terhadap pengasuh atau guru. Pada pesantren salaf, pengasuh biasa dipanggil dengan gelar kiai, ajengan, datuk, atau panggilan lokal lain. Pada pesantren modern, sebagian masih memakai istilah kiai sebagian dengan kata ustaz. Untuk pesantren salafi, nyaris tak ada yang memakai istilah kiai. Guru dan pengasuh biasa dipanggil dengan ustaz dan syekh.

Karena masing-masing pesantren salaf, modern, dan salafi mempunyai ciri dan corak serta pendidikan yang berbeda, maka harus Anda kenali melalui cirinya sebelum memasukkan anak ke suatu pesantren. Berikut ini 5 perbedaan antara pesantren salaf atau salafiyyah, salafi, dan modern.

[nextpage title=”1. Kurikulum Pendidikan”]

1. Kurikulum Pendidikan

Kurikulum pesantren salaf menekankan pada ilmu agama, terutama meliputi Alquran, hadits, fikih, akidah, akhlak, sejarah Islam, faraidh (ilmu waris Islam), ilmu falak, ilmu hisab, dan lain-lain.  Semua materi pelajaran yang dikaji memakai buku berbahasa Arab yang umum disebut dengan kitab kuning, kitab gundul, kitab klasik, atau kitab turats.

Pada pengajian-pengajian tertentu, kitab pedoman yang dipakai merupakan pilihan turun-temurun dan memiliki ikatan sanad dengan para guru dari pengasuh. Kitab wajib di pesantren salaf antara lain Ihya Ulumiddin (tasawuf), Shahih Bukhari dan Shahih Muslim (hadis), Tafsir Jalalain, Alfiyyah Ibnu Malik (nahwu) dengan varian syarahnya, dan lain-lain.

Pada pesantren modern, kurikulum pendidikan lebih menekankan pada pendalaman bahasa asing, terutama bahasa Arab dan Inggris. Percakapan sehari-hari juga diwajibkan memakai bahasa Arab atau Inggris. Kitab kitab kuning bisa dikatakan tidak dipelajari di pesantren modern. Kecuali pada pesantren modern yang afiliasinya ke NU dan masih ingin menjaga tradisinya. Pada pesantren modern yang terakhir ini mungkin ada beberapa kajian kitab kuning.

Pesantren salafi-Wahabi biasanya menekankan pada hafalan Alquran dan hadis. Sebagian mengadopsi kurikulum lembaga pendidikan di Arab Saudi. Lulusannya pun terkadang dijanjikan untuk beasiswa kuliah di salah satu universitas negara petrol dolar tersebut.

Kajian kitab yang diberikan antara lain menggunakan kitab al-Ushul ats-Tsalatsah, Riyadhush Sholihin, Minhajul Muslim, Tafsir al-Muyassar, Shahih Fiqh Sunnah, Sirah Nabawiyyah, dan lain-lain.

[nextpage title=”2. Metode Belajar”]

2. Metode Belajar

Pada pesantren salaf murni, metode belajar menggunakan sistem bandongan dan sorogan. Bandongan atau disebut juga wetonan adalah pengajian kitab oleh kiai atau guru yang membaca kitab dengan makna ala pesantren dan santri mendengar serta menulis makna. Sorogan adalah menyetorkan bacaan kitab kepada salah satu guru yang dipercaya. Dengan kata lain, bandongan dan wetonan adalah pengajian umum, sedangkan sorogan adalah pengajian semacam privat.

Bagi pesantren salaf yang telah menerapkan pola madrasah, pembelajaran dilakukan berjenjang sesuai tingkatan. Biasanya kitab yang dijadikan pelajaran harus khatam setiap tahunnya dalam tingkatan tersebut.

Pesantren modern lebih cenderung mencampurkan kajian materi ilmu agama dalam kurikulum sekolah. Pondok Modern Gontor, misalnya, merancang kurikulum sendiri untuk menggabungkan berbagai pelajaran umum dan pelajaran agama. Ada juga pesantren modern yang kurikulumnya ikut pemerintah. Ada pula pengajian sistem bandongan, tetapi menggunakan terjemah perkata dalam bahasa Indonesia, bukan makna ala pesantren yang menggunakan tarkib nahwu (sistema makna ala pesantren salaf).

Menetap dan belajar di pesantren dalam istilah pesantren salafi dinamakan mulazamah. Metode pembelajaran beberapa kitab utama memakai sistem bandongan yang disebut kajian umum. Sebenarnya, melihat praktiknya bisa saja sama dengan pesantren salaf atau modern, tetapi pesantren salafi cenderung banyak memakai istilah Arab sehingga tampak beda.

[nextpage title=”3. Prioritas Keilmuan”]

3. Prioritas Keilmuan

Prioritas keilmuan yang ditekankan pada pesantren-pesantren salaf berbeda-beda tergantung jenisnya. Ada pesantren khusus tahfidz, yang lebih menonjolkan hafalan dan tahsin bacaan. Pesantren salaf yang menonjolkan keilmuan di bidang alat (Nahwu, Sharf, Balaghah), lebih mengutamakan kemampuan di bidang ilmu alat untuk menguasai kitab-kitab kuning. Keunggulannya santri salaf lebih mengerti tata bahasa Arab tertulis seperti dalam kitab-kitab kuning dengan mendalam. Untuk bahasa lisan, mereka kurang lancar memakai bahasa Arab. Selain kurang biasa, kosakata yang dimiliki adalah kosakata bahasa Arab fushah (resmi) yang bersumber dari bahasa kitab.

Untuk pesantren modern, keunggulan santri di bidang ilmu umum, bahasa asing dan berbagai ketrampilan lain lebih diutamakan. Penguasaan ilmu alatnya kurang mendalam. Bahasa Arab yang dipakai dalam keseharian cenderung bahasa arab amiyah.

Kebanyakan pesantren salafi mengutamakan hafalan Alquran dan hadis. Sebagian yang bercorak modern juga menekankan penggunaan bahasa Arab untuk keseharian. Penanaman akidah salafi yang biasa disebut manhaj salaf shalih dan semangant antibidah menjadi ciri khas lain dalam skala prioritas keilmuan santri. Kitab yang dijadikan acuan akidah salah satunya adalah al-Ushul ats-Tsalasah karya Syekh Muhammad bin Abdul Wahab. Lulusan yang hafal Alquran dan sekian hadis memang menjadi andalan pesantren-pesantren salafi agar dakwahnya lebih diterima.

[nextpage title=”4. Ciri Kultur dan Administrasi”]

4. Ciri Kultur dan Administrasi

Dalam lingkungan pesantren salaf, didikan ala kitab Ta’lim dan kitab adab lainnya terlihat dalam keseharian santri terhadap kiai, guru dan seniornya. Rata-rata pesantren salaf berafiliasi kultural ke NU dalam fahamnya. Sederhananya, fikihnya Syafi’i, akidah tauhid Asy’ariyah Maturidiyah, tasawuf ala Imam Ghazali, tarawih 20 rakaat plus witir 3 rakaat, qunut dalam shalat subuh, tahlilan, maulid, barzanji, dan lainnya. Keseharian santri bersarung dan berpakaian sederhana, bahkan ada yang terkesan lusuh.

Biaya di pesantren salaf cenderung lebih murah. Keberadaan pesantren pun bermula dari dukungan masyarakat sekitar. Terkadang bangunan pesantren berbaur dengan perumahan penduduk. Karena pembiayaan cenderung mandiri, maka bangunan dan fasilitas pesantren salaf sederhana saja.

Pesantren modern, istilah yang pertama kali dikenalkan oleh Pesantren Modern Darussalam Gontor, memiliki ciri keseharian lebih disiplin. Bahkan sebagian ada yang hampir mirip militer. Sopan santun agak berbeda dengan santri pesantren salaf. Namun bagi pesantren modern, kesopanan tersebut sudah tepat bagi mereka. Karena santri diajari untuk tidak hanya menerima informasi dan tunduk patuh, tetapi juga kritis dan disiplin serta tegas.

Pesantren Gontor, seperti ditegaskan pendirinya, K.H. Imam Zarkasyi, tidak berafiliasi ke golongan dan partai manapun. Prinsip inilah yang tertanam ke pesantren modern lainnya. Namun, tak sedikit pula pondok modern yang berafiliasi ke NU. Tak lain pesantren tersebut adalah pesantren NU yang bercorak modern karena terinspirasi keberhasilan Pondok Modern Gontor menampilkan sisi lain keunggulan pesantren.

Biaya di pesantren modern cenderung lebih mahal karena tuntutan sistem pendidikan yang lebih maju. Bangunan dan infrastruktur pun lebih megah dan lengkap.

Untuk pesantren salafi, kultur keseharian santri manampilkan pakaian khas jubah atau sarung di atas mata kaki. Namun untuk berpergian, lebih memilih celana cingkrang. Jenggot juga menjadi bagian ciri khas santri salafi. Pembudayaan kultur Arab lebih ditekankan, terlihat dari gaya bicara dan berpakaian.

Berbeda dengan pesantren salaf ala NU yang berdiri perlahan dengan dana swadaya dan dana pribadi serta donatur lokal, pembangunan pesantren salafi lebih cepat dan tanpa merepotkan masyarakat sekitar. Donatur dari Timur Tengah, khususnya Arab Saudi mendominasi pembangungan dan pembiayaan pesantren salafi. Rata-rata pesantren salafi, khususnya tahfidz, menggratiskan santrinya.

[nextpage title=”5. Doktrin Keagamaan”]

5. Doktrin Keagamaan

Doktrin keagamaan pada pesantren salaf selalu bercorak ahlussunah wal jamaah versi NU dan sejenisnya, yaitu bercirikan mengikuti salah satu 4 mazhab, mazhab teologi mengikuti Asy’ariyah dan Maturidiyah, menganut tasawuf ala Imam al-Ghazali.

Untuk pesantren modern, tergantung kemana pesantren tersebut menginduk. Jika berinduk ke pesantren Gontor, tentu tanpa berpihak pada satu golongan atau aliran. Tetapi bagi pesantren modern NU tentu akan merujuk doktrin keagamaan sama dengan pesantren salaf.

Berbeda dengan pesantren salaf, pesantren salafi mendasarkan doktrin keagamaan kepada ajaran salafi dalam kitab al-Ushul ats-Tsalasah. Sebagian pesantren salafi yang cenderung ekstrim menekankan ajaran antibidah, syirik dan lainnya dengan menambah kitab-kitab rujukan salafi. Bertentangan dengan NU, mazhab teologi Asy’ariyah dan Maturidiyah dianggap sesat. Pesantren salafi juga menekankan antitasawuf. Jadi, dalam penanaman doktrin, pesantren salafi bertentangan dengan pesantren salaf.

Wa akhiran, pilihan Anda tentu berdasarkan kecenderungan paham yang Anda ikuti. Tulisan ini hanya menjadi salah satu second opinion agar Anda lebih bijak memilik dan setidaknya punya referensi, terutama bagi orangtua yang tak pernah belajar di pesantren.

 

Baca Juga: