Menu Tutup

Ini 6 Tip dan Nasihat Tere Liye untuk Kamu yang Jodohnya Jauh dan Semakin Menjauh

DatDut.Com – Kemarin penulis novel terkenal, Tere Liye, membuat catatan di Fanpagenya yang hingga tulisan ini dibuat telah dibagikan sebanyak 1.727 kali dan disukai 8.900-an orang.

Dalam waktu hanya 15 jam catatan itu telah menyedot perhatian sebanyak itu karena mengungkap sesuatu yang jadi tanda tanya banyak orang, yaitu tentang kenapa jodoh jauh? Itu pula yang dijadikan judul catatan penulis prolifik ini. Berikut isi lengkap catatan Tere Liye itu:

Kenapa jodoh jauh-jauh dari kita? Berikut beberapa alasannya. Tapi tulisan ini tidak serius, ini cuma buat ‘becanda’ saja. Syukur2 kalau bermanfaat.

1. Karena kita jarang mandi

Bagaimana kalian akan dapat jodoh jika kalian jarang mandi? Mandi dengan rajin dan teratur itu adalah salah-satu petunjuk jika seseorang sudah bisa mengurus dirinya sendiri. Bagaimana mungkin jodoh akan dekat-dekat, eh, mengurus diri sendiri saja tidak serius. Jadi poinnya bukan di jarang mandinya, melainkan di: mengurus diri sendiri. Jangan mimpi dapat jodoh, kalau bertanggung-jawab atas sendiri saja tidak bisa.

2. Kebanyakan galau

Dikit-dikit galau, dikit-dikit dirundung suasana hati nggak menentu. Pantas saja jodohnya nggak mampir. Bahaya ini mah. Jodoh itu membutuhkan keseriusan. Kalau cuma buat main-main, maka levelnya memang pacaran saja. Yang masih sibuk galau2 ria, sibuk kepo, sibuk stalking, wah, jodoh kalian masih jauh kayaknya. Mulailah serius dan fokus ke rencana hidup, baru jodohnya mulai dekat-dekat. Karena sstt… yg sudah serius saja kadang masih susah nemu jodohnya, loh.

3. Teori melulu, kagak ada prakteknya

Kita bisa saja dapat ponten 10 ujian mendapatkan SIM. Tapi kalau nggak pernah bawa mobil, dijamin nggak bakalan bisa nyetir. Teorinya jago, tapi prakteknya nol. Sama, kita jago sekali teori cinta, jodoh, dsbgnya, tapi cuma teori doang, nggak bakal ketemu jodohnya. Soal quote, nasihat2 cinta, wah jago banget. Tapi sudah menikah? Belum. Akunnya penuh dengan petuah2 cinta. Tapi sudah berkeluarga? Belum. Itu sih emang begitu orangnya.

4. Terlalu tinggi memasang standar

Eh, boleh2 saja pengin dapat jodoh yang paket empat sehat lima sempurna. Kaya, terkenal, baik hati, ganteng, saleh, dll, dstnya. Masalahnya, yang kayak begitu mau nggak sama kita? Kalau cuma kepengin sih boleh. Tapi kita hidup di dunia nyata, bukan dongeng princess. Paling hanya 1 banding sejuta yang kayak Cinderella–itupun karena Cinderella memang baik hatinya. Lah, kita? Judes, bawel, pemalas, suka iri hati, dll, dsbgnya, nggak bakal nemu sama pangerannya. Papasan sih mungkin, tapi habis itu melengos pangerannya.

5. Mental masih cemen

Jangan protes dan marah dulu. Tapi sesungguhnya, banyak yang sebenarnya belum dapat jodoh, karena memang mentalnya masih cemen. Bilangnya sih sudah siap dan berani, tapi mentalnya tidak sesiap itu. Dek, kalau mau menikah, bahkan tidak perlu punya rumah megah dulu, mobil mewah dulu, ini, itu, emas kawinnya cukup baut. Sah. Setelah menikah baru betul2 kerja-keras, banting tulang. Itu baru yang disebut mental baja. Ini juga buat yg sudah pacaran 5 tahun, 10 tahun. Kenapa belum menikah? Karena kalau dia kredit mobil atau rumah, sudah lama lunas. Lah ini, tetap saja pacaran.

6. Takut gagal. Trauma

Ada orang menikah, kemudian bubar jalan, apa sebenarnya yang terjadi? Tidak ada apa-apa yg terjadi. Biasa saja. Itulah dunia. Tuhan temukan seseorang dengan orang yang salah, untuk besok2 semoga bertemu dengan yang betul. Itu juga jodoh. Sesimpel itu saja sebenarnya. Tapi kalau mau dibuat rumit, dibuat sangat serius, maka hal sepele apapun akan jadi masalah.

Kurang lebih begitu. Karena lama-lama nanti daftarnya jadi tambah serius, padahal tulisan ini niatnya cuma buat becanda saja. Jadi cukuplah sampai di sini saja. Terakhir, pastikan kalian rajin mandi kalau mau dapat jodoh. Juga banyak2 makan sayuran dan buah. Pun berolahraga. Karena jika ternyata tidak dapat2 juga jodohnya, minimal kalian jadi sehat. Daripada sibuk kepo, stalking, yg kalian kepoin dan stalking belum tentu juga tahu ini. Mending sibukkan diri dgn hal positif. Masuk akal, kan?

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *