Ini 5 Corak Dakwah Menurut Alquran

Addai.or.id – Gagasan dakwah yang digagas Wali Songo sejatinya mengarah pada dakwah Islam yang berusaha mengakomodir nilai-nilai kearifan lokal.

Istilah kearifan lokal (local wisdom atau local genius) pertama kali diperkenalkan oleh Quaritch Wales, antropolog yang konsentrasi mengkaji agama-agama di Asia Tenggara.

Menurut Gus Dur, kearifan lokal adalah nilai-nilai sosial-budaya yang berpijak pada tradisi dan praktik terbaik kehidupan masyarakat setempat.

Istilah kearifan lokal, menurut saya, sepadan dengan istilah al-‘urf dan al-ma’ruf dalam Alquran. Ada 8 ayat yang terdapat kata al-amr dan berbagai macam bentuknya yang berpasangan dengan kata al-‘urf atau al-ma’ruf.

Masing-masing terdapat dalam QS. Al-A’raf; 157 dan 199, QS. Ali Imran; 104 dan 110, QS. Al-Taubah; 113 dan 114, QS. Al-Haj; 41, QS. Luqman; 17. Saya menyimpulkan, ada 5 corak dakwah yang diajarkan Wali Songo dalam menyebarkan Islam di Indonesia. Berikut ulasannya:

1. Santun

Al-‘Urf atau al-ma’ruf, menurut Ibnu Faris, memiliki dua arti dasar. Pertama, sesuatu yang terus menerus dilakukan secara turun-temurun. Kedua, kedamaian serta ketenangan.

Jadi, pasangan kata al-amr dan al-ma’ruf yang terdapat dalam Alquran mengisyaratkan kepada kita untuk berdakwah dengan kasih sayang dan berusaha mengakomodir adat-adat masyarakat setempat yang ditolelir oleh syariat.

Selain itu, dalam berdakwah juga diperlukan sikap-sikap yang santun, sehingga mendatangkan ketenangan dan kedamaian untuk mengasihi sesama manusia, bukan memusuhi. Apalagi, umat Muslim Indonesia saat ini sedang dijangkit penyakit sektarianisme.

 2. Mengakomodir Budaya Setempat

Saya contohkan penerapan gagasan dakwah yang sejalan dengan kearifan lokal, misalnya tradisi selamatan 120 hari (masuk 4 bulan) atas kehamilan calon bayi adalah suatu tradisi yang tidak terlepas dari orang Jawa.

iasanya, ayah dan ibu bayi menyediakan kupat (ketupat) dan lepet dalam acara tersebut. Selain itu, mereka juga mendoakan jabang bayi dengan membaca surah-surah dalam Alquran, Surah Yusuf, Surah Maryam, Surah Luqman, Surah Al-Rahman, Surah Al-Waqi’ah, Surah Al-Mulk, Surah Muhammad, Surah Al-Muzammil dan Surah Yasin.

Kupat adalah akronim dari ngukuhaken perkara papat (mengukuhkan perkara empat), yaitu jodoh, rejeki, umur, dan nasib. Malaikat menentukan empat perkara tersebut disaat usia janin memasuki 120 hari dalam kandungan ibu.

Lepet akronim dari dilep (disimpan) pet (rapat). Jadi, lepet adalah disimpan dengan baik. Dengan dua suguhan tersebut yang kemudian dibagi-bagikan untuk masyarakat sekitar diharpakan jodoh, rejeki, umur, dan nasib calon jabang bayi mendapatkan yang terbaik.

 3. Tidak Anarkis

Terkait kata al-amr, Ibnu Asyur menjelaskan secara mendetail. Menurutnya, tugas tokoh masyarakat hanyalah mengajak dan menjelaskan antara yang makruf dan munkar, bukan menghakimi orang yang diajaknya.

Lebih lanjut, ia berpendapat bahwa hadis yang menyatakan, “Jika di antara Anda melihat kemunkaran, maka cegahlah menggunakan kekuasaannya, atau cukup diajak, atau cukup diinkari dalam hati, dan inilah iman yang terlemah,” (H.R. Muslim).

Hadis itu ditujukan kewenangannya untuk pemerintah, bukan individu atau sekelompok organisasi masyarakat. Hal ini, menurutnya, untuk menghindari timbulnya anarkisme dalam berdakwah yang mencoreng nama Islam.

4. Lebih Banyak Mengajak daripada Melarang

Masih menurut Ibnu Asyur yang juga menyebutkan bahwa sahabat Nabi, Muaz bin Jabal, yang diutus menjadi dai ke Yaman untuk lebih banyak mengajak pada kebaikan, daripada melarang kemunkaran yang dilakukan masyarakat Yaman.

Memang betul, melarang seseorang melakukan perbuatan maksiat juga bagian dari dakwah. Namun, hal tersebut perlu disampaikan secara santun dan tidak anarkis.

Sehingga, masyarakat merasa nyaman dengan dakwah yang kita lakukan, baik sifatnya mengajak kebaikan atau melarang kemungkaran.

5. Taat Pada Pemerintah

Saya telah menyebutkan pada poin sebelumnya bahwa tugas kita sebagai individu ataupun organisasi masyarakat hanyalah mengajak kebaikan atau melarang kemunkaran dengan cara yang santun dan tidak anarkis.

Sehingga, ketika masih ada perbuatan-perbuatan menyimpang yang dilakukan masyarakat, baik yang melanggar norma agama maupun norma sosial, segeralah melapor ke pemerintah terkait, seperti RT, RW, Walikota, Bupati, dan seterusnya. Main hakim sendiri tidak dibenarkan dalam Islam.

Sumber: DatDut.Com

 

ADDAI: Acara Keislaman di TV Perlu Selektif Memilih Dai

Addai.or.id – Hari ini jagat maya digegerkan dengan viral dua tangkapan layar (screenshot) tulisan Arab seorang ustazah yang mengisi suatu acara pengajian di salah satu televisi swasta.

Bukan isinya yang menyimpang atau materi yang disampaikannya provokatif, tapi kesalahan fatal yang dilakukan oleh ustazah pengisi acara itu.

Sampai berita ini diturunkan, cukup banyak ulasan dari para ulama, ustaz, santri, dosen, juga kaum terpelajar Islam, yang mengupas kesalahan si ustazah itu.

Meskipun pihak televisi dan ustazah tersebut telah menyampaikan permintaan maaf, namun tetap saja banjir komentar di media sosial tak terbendung hari ini.

Dari begitu banyak komentar yang beredar di media sosial, rata-rata menyayangkan kesalahan fatal yang dilakukan oleh si ustazah, apalagi itu dilakukan di suatu acara keislaman yang disiarkan oleh televisi swasta nasional yang baru saja mendapat penghargaan dari Kementerian Agama.

Hal inilah yang disayangkan oleh Ketua Umum Asosiasi Dai-Daiyah Indonesia (ADDAI) Dr. Moch. Syarif Hidayatullah. Ditemui di ruang kerjanya, dosen UIN Syarif Hidayatullah ini menyampaikan pendapatnya seputar topik yang sedang ramai di media sosial ini.

“Bila melihat tangkapan layar yang beredar di media sosial, memang cukup banyak kesalahannya. Apalagi yang ditulis adalah teks Alquran. Dari kutipan pada surah al-Ankabut 45 dan surah al-Ahzab 21, kesalahannya hampir 70%. Bahkan, menuliskan kata salat dalam bahasa Arab saja juga masih salah,” jelas Syarif menyayangkan.

Syarif menuturkan bahwa ia kebetulan juga sempat menyaksikan video ceramah ustazah tersebut di situs milik televisi terkait. Sayangnya, video itu kini sepertinya sudah dihapus. Menurut Syarif, dari cara ustazah tersebut membaca ayat, tampak sekali kelemahan dalam tajwid dan pelafalan ayat.

“Di situ saya menjadi ragu bila pihak televisi di siaran pers yang beredar mengklaim bahwa ustazah dalam tayangan tersebut adalah seorang yang berkompeten dalam bidangnya. Saya jadi ingin bertanya, bagaimana kriteria penentuan kelayakan seorang dai tampil di stasiun televisi tersebut? Ukuran kompetensinya apa dan cara mengukurnya seperti apa?”

Menurut Syarif, harusnya pihak televisi sudah saatnya mengubah orientasinya. “Mungkin kalau dulu, dai-dai yang lucu-lucu itu disukai masyarakat. Tapi masyarakat sudah berubah. Kemunculan ustaz-ustaz muda di Youtube dan media sosial belakangan ini yang lebih ‘berisi materi dakwahnya’, menjadi bukti pergeseran kecenderungan masyarakat dalam mendengarkan materi dakwahnya,” terang pria kelahiran Pasuruan ini.

Lebih lanjut, Syarif menyampaikan bahwa masyarakat juga semakin kritis, apalagi kemampuan mengakses literatur keislaman juga semakin mudah. Banyaknya para penghafal Alquran dan pengkaji ilmu-ilmu keislaman, membuat masyarakat jadi lebih memilih dan memilah siapa ustaz atau ustazah yang mau didengar ceramahnya.

“Pihak televisi tak bisa lagi asal comot dai atau ustaz. Tidak bisa lagi asal lucu, asal ganteng, asal cantik, asal artis. Bila wawasan agamanya tidak memadai, pasti akan ditinggalkan oleh masyarakat. Alternatif belajar agama sudah banyak,” tegas penulis produktif ini.

Menurut Syarif, televisi sekarang tidak bisa main-main lagi. Televisi sudah dalam posisi terancam oleh media sosial dalam berbagai jenis siarannya, termasuk siaran keislaman. Saat ini sudah banyak dai dan ustaz berkualitas yang memanfaatkan YouTube, Facebook, Instagram dalam menyampaikan materi dakwahnya. Harusnya pihak televisi bisa mulai melirik ini dan melakukan seleksi.

“Pihak televisi juga harusnya punya tanggung jawab dalam mengajari masyarakat tentang Islam. Caranya ya melalui seleksi yang ketat terhadap ustaz atau dai yang ditampilkan di acara-acaranya,” pungkasnya.

Sumber: DatDut.Com

ADDAI Mendesak Dilakukan Uji Kompetensi Dai

Addai.or.id – Viral terkait kesalahan fatal tulisan tangan teks Alquran yang dilakukan seorang ustazah di suatu stasiun televisi, mendapat sorotan dari ADDAI (Asosiasi Dai-Daiyah Indonesia).

Ketum Umum ADDAI Dr. Moch. Syarif Hidayatullah menyebut bahwa kejadian memalukan ini menambah daftar panjang masalah-masalah yang ditimbulkan oleh para dai yang berdakwah di televisi.

Sebelumnya ada ustaz muda yang menyebut ada “pesta seks” di surga, juga ustaz-ustaz televisi yang lebih mirip pelawak daripada sebagai ustaz, dan soal dai yang mematok tarif.

“Masyarakat sudah mulai resah. Karena dai yang ditampilkan di televisi tidak sesuai harapan. Lalu, ada kesan, menjadi dai itu gampang. Asal bisa ngomong, asal bisa melucu, asal terkenal, atau asal cakep,” jelas Syarif.

Menurut dosen UIN Syarif Hidayatullah ini, hal itulah yang saat ini menjadi keprihatinan dan konsen ADDAI. Ia tidak ingin profesi dakwah kehilangan fungsi kesakralannya sebagai corong kalam Ilahi dan sabda Nabi.

“Seharusnya seorang dai, apalagi yang tampil di televisi, harus memenuhi persyaratan dasar sebagai dai. Seperti bacaan Alqurannya bagus, mengerti ilmu-ilmu keislaman, dan paham bahasa Arab. Selebihnya, memiliki akhlak dan paham fiqhud-da’wah.”

Lantaran prihatin dengan kondisi dunia dakwah, terutama di televisi, menurut penulis buku-buku keislaman ini, “ADDAI dalam waktu dekat akan bekerja sama dengan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah, akan mengadakan uji kompetensi dai.”

Menurut Syarif, uji kompetensi dai ini sudah mendesak dilakukan. Syarif mengaku banyak mendapat keluhan dari masyarakat soal kualitas dai-dai di televisi. Tidak hanya masyarakat, para dai, ulama, dan akademisi, juga mengeluhkan hal yang sama.

“Karenanya, uji kompetensi dai perlu segera dilakukan. Dari hasil uji kompetensi dai itu, seseorang akan diketahui kelayakannya sebagai dai. Mungkin nanti akan diberikan sertifikat yang harapannya nanti bisa diakui semacam SIM dalam berdakwah,” pungkas ustaz yang juga Direktur Pusat Penerjemahan Alquran dan Hadis ini.

Sumber: DatDut.Com

Video Format

Ut varius tincidunt libero eu porta. Aliquam faucibus tincidunt lorem, id vestibulum elit iaculis id. Ut sit amet metus vestibulum, efficitur mi ut, lobortis mauris. Mauris pulvinar aliquet tellus eget blandit. Duis varius vitae augue sed condimentum. Phasellus tempor nulla condimentum ante rhoncus, eget porttitor metus maximus. Aliquam erat volutpat. Duis auctor in urna nec vehicula. Vestibulum a iaculis diam.

https://www.youtube.com/watch?v=NOwb741293Y

Lorem ipsum dolor sit amet

Nam luctus commodo nulla vitae laoreet. Quisque tellus ante, gravida quis dapibus in, dignissim nec purus. Praesent dignissim tincidunt sapien, ut lobortis sem consectetur nec. Ut rutrum metus leo, eget bibendum ligula vehicula sit amet. Duis augue magna, pellentesque ut laoreet a, vestibulum ac velit. Fusce rhoncus consectetur eros, at faucibus urna dictum ac. Aenean vel quam vitae sapien rhoncus eleifend eu vitae diam.

Ut fringilla diam et enim vestibulum, mattis blandit tortor ultrices. Donec rutrum malesuada justo in dapibus. Nunc in sapien sed ligula viverra vulputate eget sed nisi. Nullam consectetur ullamcorper sem, eget venenatis lorem posuere id. Praesent condimentum viverra cursus. Integer consequat eros vel diam posuere, vitae efficitur tellus tristique. Duis at purus mollis, posuere eros ac, pharetra est. Vivamus at libero eu odio sollicitudin porta. Nunc convallis tempus velit, vel efficitur neque. Suspendisse imperdiet ex et velit vulputate vulputate. Praesent placerat pulvinar urna et scelerisque. Suspendisse potenti. Curabitur dapibus velit a eleifend finibus. Nullam elementum lacus mauris, ut bibendum libero imperdiet tincidunt. Nulla facilisi. Etiam faucibus magna tortor, ut lacinia dui semper eu.