Toleransi yang Dibenarkan

Addai.or.id – Ada sementara orang yang bertanya, bagaimana sikap toleran yang dibenarkan dalam agama? Misalnya, ada yang bertanya bolehkah kita menghadiri pernikahan yang diadakan di tempat ibadah yang lain? Atau bolehkah kita bertakziah ketika ada saudara kita yang non muslim wafat.

Inilah hal-hal yang saya kira mungkin perlu mendapatkan penjelasan. Dalam kesempatan ini kita akan menguraikannya.

Pada prinsipnya, setiap agama pastilah memiliki tiga pilar: dari aspek teologi atau akidah, aspek ritual atau syariah, dan aspek akhlak atau dalam hubungan antar sesama.

Nah, toleransi yang dilarang tentu dalam konteks akidah dan syariah yaitu dalam konteks keyakinan dan dalam konteks beribadah. Sedangkan dalam konteks bermuamalah, agama dan al Qur’an khususnya, tidak ada larangan apapun dan bahkan itu dianjurkan sepanjang itu untuk kebaikan bersama.

Kita ambil contoh, misalnya, kalau ada tetangga kita apakah dia non muslim yang wafat maka sudah sewajarnya kita bertakziah. Untuk apa? Menghormati bagi anggota keluarga yang masih hidup. Sebagai sebuah hubungan sosial yang baik maka kita hadir untuk menyampaikan bela sungkawa, untuk menyampaikan duka derita kita.

Sedangkan terhadap jenazah, terhadap yang wafat, tentu saja kita boleh menghormati jenazahnya.

Nah, juga dalam konteks menghadiri sebuah acara pernikahan di tempat ibadah orang lain, misalnya, juga tidak ada larangan sepanjang kita tidak mengikuti ritual ibadah mereka.

Namun, dalam bentuk kita menghormati hubungan sesama, hubungan sosial, maka agama sangat menganjurkan .

Dalam surah ke 60 (al Mumtahanah) pada ayat ke 8:

لَا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ

Artinya: “Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”

Bukan hanya kita yang muslim, kita yakin, saudara-saudara kita yang non muslim pun pastilah mengerti bahwa dalam bertoleran itu tidak harus mencampur adukkan akidah dan ritual cara beribadah mereka. Maka dalam konteks keyakinan, agama kita sudah mengajarkan “Lakum diinukum wa li yadiin”, buat kamu agama kamu, buat kami agama kami.

Namun, dalam konteks sosial, dalam konteks hubungan sesama untuk menciptakan kehidupan yang lebih harmonis, damai dalam hidup ini adalah hak setiap orang, termasuk hak setiap umat beragama.

Semoga kita semakin menjadi pribadi-pribadi yang membawa kedamaian bagi lingkungan kita.

Oleh: K.H. Ali Nurdin (Majelis Syura ADDAI)

https://youtu.be/7bL9EXNQxbk

Ghuraba, Kebaikan di Tengah Kerusakan

Addai.or.id – Ghuraba artinya orang yang terasing dengan kebaikan di tengah kerusakan umat. Salah satu tanda akhir zaman adalah banyaknya perzinaan, banyaknya anak yang durhaka kepada kedua orang tua dan menyebarnya kemaksiatan dimana-mana.

Rasulallah SAW mengilustrasikan kondisi akhir zaman bagaikan seseorang yang menggenggam bara api dalam menjalankan agamanya. Rasulallah SAW bersabda :

عن أنس – رضي الله عنه – عن النبي – صلى الله عليه وسلم يأتي على الناس زمان الصابر فيه على دينه كالقابض على الجمر.

Dari Anas Radhiyallah Anhu, dari Nabi Muhammad SAW bersabda, akan datang kepada manusia suatu zaman pada saat itu orang yang sabar dalam menjalankan agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.

عن ابن مسعود – رضي الله عنه – أن رسول الله – صلى الله عليه وسلم – قال: إن من ورائكم زمان صبر للمتمسك فيه أجر خمسين شهيدا منكم.

Dari ibnu Mas’ud Radhiyallah Anhu, bahwa Rasulallah saw bersabda, akan datang suatu jaman dibelakang kalian, sabar dalam menjalankan agama pahalanya bagaikan lima puluh orang yang mati syahid.

Betapa berat kondisi akhir zaman. Pada saat itu para pembaca al Qur’an marak dimana-mana tetapi orang yang memahaminya sedikit sekali. Bahkan diriwayatkan pula, tidak sedikit manusia diakhir zaman membaca al Qur’an hanya sampai kerongkongannya saja, tidak menyentuh hatinya. Saat itu, orang-orang beriman dan soleh merasa terasing dan aneh, karena kondisi kemaksiatan dengan keragamannya marak dimana-mana. Rasulullah SAW bersabda :

عن أبي هريرة – رضي الله عنه – قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – بدأ الإسلام غريباً وسيعود غريباً فطوبى للغرباء.
Dari Abu Hurairah Radhiyallah Anhu berkata, Rasulullah saw bersabda, Islam pertama kali datang dalam keadaan asing dan akan kembali menjadi asing, maka beruntunglah orang-orang yang terasing.

قيل: من هم يا رسول الله؟ قال: «الذين يَصلُحون إذا فسد الناس» وفي رواية أخرى, قيل: ومن الغرباء يا رسول الله؟ قال: «ناس صالحون قليل في ناس سوء كثير، ومن يعصيهم أكثر ممن يطيعهم

Sahabat bertanya, siapa mereka ya Rasulullah SAW yang beruntung pada akhir jaman? Orang-orang yang selalu berbuat baik ditengah kerusakan umat.

Didalam riwayat lain, dikatakan, siapa al ghuraba itu ya Rasulallah saw ? Manusia yang soleh sedikit ditengah mayoritas orang buruk, dan orang yang maksiat lebih banyak daripada orang yang taat.

Solusi yang ditawarkan Rasulullah SAW apabila terjadi sebagai berikut:

1. Selalu membangun dan mempertahankan kebaikan di tengah kerusakan umat. Jadilah bagaikan ikan ditengah lautan, walau airnya asin ikan tidak pernah asin karena ikan itu hidup. Manusia yang selalu menghidupkan kebaikan dan menjalankannya secara konsisten tidak akan terbawa arus kemaksiatan dan dosa walau kemaksiatan dan dosa telah menjadi budaya.

2. Berpegang teguh kepada al Qur’an saat manusia meninggalkannya. Al Qur’an yang dibaca dan diamalkan akan dapat membimbing manusia disepanjang jaman. Karena al Qur’an adalah kitab petunjuk menuju kebahagiaan. Al Qur’an akan memberikan syafaat di dunia dan akhirat dengan membaca dan mengamalkannya.

3. Menjalankan dan menghidupkan sunnah nabi Muhammad saw saat manusia mematikannya. Rasulallah saw adalah al Qur’an berjalan. Dia adalah uswatun hasanah atau teladan terbaik dalam kehidupan, selama manusia tetap meneladaninya dan mengikuti jejak kehidupannya, niscaya akan tetap bercahaya walau kehidupan berada dalam kegelapan maksiat dan dosa.

4. Belajar dan taat kepada ulama yang mengamalkan ilmunya. Ulama adalah warisan Nabi, maka siapa yang bersama ulama akan selamat. Ulama adalah orang-orang yang memerankan peran kenabian sepeninggal Nabi Muhammad saw.

[ABTM id=248]

Fenomena Dai Selebriti, Solusi atau Problem Dakwah?

Addai.or.id – Pada dekade belakangan, hampir semua stasiun televisi menayangkan ceramah, renungan, dan tausiah dari para dai. Sebagian dai memang muka lama, tetapi sebagian lagi adalah dai muka baru. Dai yang terakhir ini umumnya mendadak beken karena terdongkrak popularitasnya setelah mengisi salah satu acara di televisi yang beberapa tahun ini memberi banyak ruang untuk para dai.

Dai-dai ini pada banyak hal memenuhi selera yang diingini industri hiburan: muda, tampan, modis, bersuara bagus, dan pandai mengolah kata. Bekal ini pula yang turut memperlancar mereka memasuki industri hiburan. Sebagai bagian dari industri hiburan seperti televisi, para dai itu telah menjadi selebriti baru dengan komoditi bernama dakwah. Mereka terkenal, dipuja, dan diperlakukan istimewa. Karenanya, pelaku dunia usaha pun tak ragu memasang para dai sebagai citra produknya. Apalagi belakangan beberapa di antaranya mampu menjadi trendsetter atas produk yang menjadikan mereka sebagai maskotnya.

Sebagai selebriti, mereka harus patuh pada aturan-aturan baku industri hiburan. Sebelum berdakwah, mereka harus di-make up supaya enak dilihat. Tampilan fisik juga harus proporsional. Busana yang dipakai pun harus dari perancang ternama, atau busana yang disediakan para pengiklan. Ini lalu didukung dengan kecanggihan tata panggung, tata suara, dan tata cahaya yang memadai agar semuanya berjalan sempurna. Para pengawal profesional juga melengkapi citra mereka sebagai bintang. Ini belum termasuk dai yang melengkapi kegiatan dakwahnya dengan manajemen dan patokan tarif tertentu.

Nah, semua karisma artifisial ini ternyata telah menggantikan karisma dai tradisional yang disimbolkan dengan kefasihan membaca Alquran, kepiawaian mengutip sabda Nabi Muhammad, dan menyitir petuah-petuah bijak para ulama pendahulu. Saya tidak hendak mengatakan bahwa dai-dai selebriti tidak mampu menunjukkan karisma dai tradisional.

Perbedaan karisma keduanya justru terletak pada pengamalan apa yang sudah didakwahkan. Karisma dai tradisional baru akan muncul bila kesalehan verbal yang mereka sampaikan berbanding lurus dengan kesalehan aksional yang ditunjukkan dalam keseharian mereka, sementara dai selebriti tidak banyak dituntut untuk menyeimbangkan dua kesalehan ini dalam mendapatkan karismanya. Akibatnya, posisinya yang tak ubahnya seperti “penghibur”, membuat dakwahnya hanya berlalu saja tanpa meninggalkan bekas mendalam pada benak penyimaknya, alih-alih bisa mengubah perilaku masyarakat menjadi lebih baik.

 

Industri Kesalehan Verbal

Pergeseran besar di dunia dakwah (terutama yang berhubungan dengan media televisi) memang tengah dan terus berlangsung. Dakwah kini tak lagi berada di wilayah sakral yang bebas nilai. Ia dipaksa masuk menjadi bagian dari budaya pop. Dakwah bahkan sudah bukan melulu panggilan hati, tetapi sudah dianggap sebagai profesi. Tak heran bila kemudian banyak yang berbondong-bondong ingin tampil sebagai dai, bukan karena semata ingin menyampaikan ajaran agama, tetapi karena iming-iming prospek ekonominya yang kian menjanjikan.

Dengan pergeseran itu, fungsi dakwah menjadi tereduksi. Sajiannya pun terjebak pada kemasan, bukan lagi pada isi. Yang utama ditonjolkan justru unsur tontonannya. Tuntunannya hanya menjadi pengisi antarwaktu saja. Kemampuan menghibur seorang dai dijadikan ukuran utama keberhasilan berdakwah. Dakwah tidak lagi bermakna bagaimana menunjukkan masyarakat ke jalan yang sesuai dengan materi dakwah, tetapi ia lebih bermakna bagaimana memenuhi keinginan produser untuk mendapat rating tinggi. Berdakwah seolah hanya keahlian menyampaikan kesalehan verbal yang patut dikomoditikan, tanpa ada label amanah ilahiah di belakangnya. Padahal, amanah inilah yang sebetulnya menuntut mereka untuk mempraktikkan materi dakwahnya dalam kesalehan aksional sebagai wujud pertanggungjawaban sosial.

Belakangan pengutamaan kesalehan verbal ini juga semakin dianggap wajar setelah muncul acara pencarian bakat berdakwah, yang konsepnya mirip dengan acara pencarian bakat yang lain di televisi. Lazimnya acara pencarian bakat, layanan pesan singkat (SMS) dari pemirsa dijadikan sebagai patokan utama untuk mengukur kehebatan seorang dai. Fakta ini juga menambah kepercayaan diri para dai bahwa umat saat ini memang hanya membutuhkan kesalehan verbal, bukan kesalehan aksional. Apalagi secara kebetulan, rating acara-acara itu cukup bagus, karenanya ditayangkan di jam-jam utama (prime time).

 

Masuk Televisi

Kerap masuk televisi dan punya acara khusus di televisi, tentu berdampak pada kedikenalan si dai. Hal inilah yang kemudian menaikkan nilai jual yang bersangkutan, sehingga menarik pengiklan menempatkannya sebagai brand ambassador suatu produk. Tak heran bila wajah dai-dai itu pun kini berseliweran menjadi bintang iklan untuk bermacam produk.

Kalau sebelumnya sebagian hanya menjadi bintang iklan untuk produk yang masih berhubungan dengan kegiatan dakwah, belakangan mereka pun merambah ke produk-produk yang tak berhubungan langsung dengan kegiatan dakwah, seperti minuman energi, helm, kartu telekomunikasi dan bahkan suplemen khusus laki-laki.

Tidak hanya itu. Kalau sebelumnya mereka cuma menjadi pemberi tausiah di sela-sela sinetron, kini mereka bahkan terjun bebas menjadi bintang sinetron yang ikut serta memerankan tokoh tertentu dalam sinetron. Kalau sebelumnya hanya mencipta lagu atau mengisi tausiah di sela-sela lagu, kini mereka tak sungkan untuk ikut serta bernyanyi.

Selain memenuhi selera yang diingini industri hiburan, seperti muda, tampan, modis, bersuara bagus dan pandai mengolah kata, sebagian dai didukung pula dengan kemampuan melucu, bahkan ada yang menyertakan bakat berpantun, atau bermain sulap. Lalu, muncullah sebutan “ustad gaul”, “ustad pantun”, “ustad kocak”, “ustad cinta” atau “ustad ilusionis”.

Kesalehan verbal pun lalu menjadi industri yang berkembang sangat pesat. Ia berkembang dengan dukungan para dai yang semakin kreatif mengembangkan media dakwahnya untuk menebar kesalehan verbal yang mereka miliki.

Problem Dai Selebriti 

Konflik salah satu dai selebriti dengan Majelis Taklim TKI di Hongkong terkait batalnya kegiatan dakwah sang ustad di negara itu, pernah menyedot perhatian khalayak sekaligus mengundang keprihatinan banyak kalangan beberapa hari ini. Pasalnya pembatalan itu dikait-kaitkan dengan persoalan honor yang diminta oleh si ustad.

Isu soal terima honor untuk kegiatan dakwah sebetulnya sudah lama menjadi perbincangan. Pendapat para ulama mengerucut pada kebolehan menerimanya dengan ketentuan tidak ditetapkan tarifnya dan jumlahnya dalam batas yang wajar. Lain soal bila dua syarat ini tidak terpenuhi. Para ulama bersepakat tidak dibenarkan menerima honor dari kegiatan dakwah yang mematok tarif apalagi dalam jumlah yang tidak wajar.

Soal kewajaran ini memang seolah memberi celah adanya oknum-oknum ustad tertentu yang memanfaatkannya untuk mematok tarif yang disesuaikan dengan kewajaran versinya. Padahal, kewajaran di sini dimaksudkan sesuai standar norma sosial yang berlaku di lingkungan pengundang. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk menetapkan tarif dalam kegiatan dakwah, karena berdakwah sejatinya bukan profesi untuk mencari sesuap nasi, tetapi justru kewajiban bagi siapa pun yang dianugerahi pengetahuan ilmu agama untuk mengajarkannya kepada mereka yang membutuhkan.

Bila mengikuti perkembangan konflik si ustad tersebut dengan seksama, di sinilah sebetulnya ujung pangkal dari persoalan si dai seleb ini. Industri pertelevisian yang hadir memberi ruang para dai muda untuk tampil, sedikit-banyak mengalihkan kesadaran mereka dari tujuan asasi berdakwah. Akhirnya, obsesi dai-dai itu adalah tampil di stasiun televisi dengan tidak mempedulikan apakah di acara dakwah atau bukan. Dampaknya, di tahun-tahun belakangan tidak susah menemukan dai muda yang tampil di acara musik, sinetron, infotainmen, iklan dan bahkan acara sulap.

 

Disorientasi Dai Selebritis

Fenomena inilah yang saya sebut sebagai disorientasi dai selebritis. Mengapa, karena kegiatan dakwah yang mereka lakukan bukan untuk semata menyampaikan ajaran ilahi, tetapi justru menjadi batu loncatan ke kegiatan-kegiatan lain yang tak ada hubungannya dengan dakwah itu sendiri. Semakin banyak mereka tampil di televisi, di situlah mereka bisa meraih popularitas yang dapat menghantarkan mereka bisa mematok tarif lebih tinggi.

Padahal bila mau jujur, tidak banyak yang bisa didapat umat dari mereka. Ayat-ayat Alquran yang mereka kutip kebanyakan itu-itu saja. Itu pun dengan kualitas kefasihan bacaan ala kadarnya. Hadis yang disampaikan pun banyak yang palsu dan bermasalah. Dalam dakwahnya, hampir jarang juga bisa dijumpai kutipan dari kitab-kitab yang memenuhi standar sebagai rujukan dakwahnya, baik itu kitab tafsir, hadis, fikih, akhlak maupun kitab sirah. Bahkan, tak jarang mereka membubuhkan kisah-kisah masa lalu (israiliat) yang tak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, juga humor-humor yang banyak dipaksakan.

Selain itu, lantaran sudah masuk dalam industri hiburan, maka yang mereka utamakan bukan lagi isi dakwahnya, tetapi justru tampilan luar, nilai berita dan nilai hiburan dari apa yang disampaikannya. Pada titik inilah, mereka berlomba tampil dengan ciri khas busana tertentu yang kemudian menjadi merek dagangnya. Sehingga yang diingat dari mereka bukan materi dakwahnya tetapi bagaimana cara berpakaiannya, merek pakaiannya, tampil di sinetron apa, atau muncul di infotainmen mana. Mereka akhirnya lupa meningkatkan mutu materi dakwahnya, sehingga tak ada perkembangan berarti dari kualitas dakwahnya, boro-boro dapat menyumbangkan sesuatu untuk mengubah dan memperbaiki kondisi moral-spiritual masyarakat.

Lalu, kalau sudah begini, siapa yang bersalah? Menimpakan semuanya ke pundak mereka, tentu bukanlah sesuatu yang adil. Kalau mau jujur, sedikit-banyak ada andil masyarakat dalam hal ini sehingga tanpa sadar membentuk mereka menjadi seperti itu. Betapa tidak, mereka diundang untuk berdakwah bukan lantaran kesalehan yang melekat pada diri mereka sehingga membuat mereka layak memberi tausiah, tetapi  karena mereka masuk televisi. Mereka dihadirkan bukan lantaran kedalaman keilmuan yang mereka punya, tetapi karena mereka lucu atau tiba-tiba bisa menguras air mata jamaah.

Oleh karena itu, masalah seperti ini sebaiknya dijadikan momentum untuk memperbaiki dunia dakwah yang terlanjur menjadi industri. Para dai muda diharapkan dapat mengubah strategi dakwahnya, dari yang semula mengutamakan kemasan menjadi mengutamakan isi.

Industri pertelevisian juga hendaknya tidak menjadikan tablig akbar dan talkshow yang menduetkan ustad dan komedian sebagai jualan utamanya. Karena sebetulnya masih banyak kemasan acara dakwah di televisi yang bisa dijajaki, seperti kajian tematik atau kajian kitab tertentu, sehingga materi dakwah lebih terarah dan berhasil guna. Toh, nyatanya acara-acara seperti itu juga tidak sepi peminat. Sebagai contoh, kajian Tafsir al-Misbah Qurasih Shihab atau Kajian Kitab Kuning Shahih Bukhari A. Lutfi Fathullah.

Masyarakat juga harus segera menyadari bahwa saat mengikuti acara dakwah itu bukan untuk mencari hiburan atau lelucon, tetapi untuk menambah ilmu dan mendapat pencerahan baik secara moral maupun spiritual. Masyarakat harus diberi informasi bahwa yang terpenting adalah teladan, bukan omongannya. Dan, teladan itu hanya bisa kita ambil dari orang-orang yang betul-betul kita tahu kesehariannya. Karena, dakwah itu bukan acara dangdutan atau konser musik, yang hanya untuk hiburan sesaat. Dakwah adalah soal menanamkan nilai yang mengakar di kepala lalu bisa diamalkan di dunia nyata.

Di sinilah pentingnya segera mengembalikan dakwah ke fungsinya yang asasi agar nilai sakralitas ajaran agama tetap terjaga. Berdakwah bukanlah profesi. Kemuliaan berdakwah tidak sepatutnya dinodai oleh oknum dai yang hanya menjadi stempel kisah-kisah mistik di televisi, apalagi sampai berani mengutipkan dalil baik dari Alquran dan hadis untuk membenarkan cerita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Umat butuh dai yang bisa membimbing dan membenahi masyarakat, setelah lebih dulu membimbing dan membenahi dirinya sendiri. Bangsa ini menanti orang-orang yang mendakwahkan agama tanpa pamrih, istikamah, dan sepenuh hati. Masyarakat merindukan dai yang mampu memberi contoh terhadap apa yang disampaikan, bukan dai jarkoni (bisa berujar tapi tidak bisa ngelakoni). Dari merekalah bisa diharapkan permasalahan umat terbenahi. Sayangnya orang-orang seperti ini tidak banyak diminati pengelola televisi.

[ABTM id=244]

Kesuksesan Itu Misterius, Tak Ada Rumus Pastinya, Tapi Banyak Jalannya

Addai.or.id – Sukses itu misterius. Tak ada rumus pastinya. Tak jarang kesuksesan kita bukan karena usaha kita murni, tapi ada doa orang-orang di sekeliling kita, termasuk orangtua dan guru kita. Kadang pintar, rajin, kaya, berprestasi, dan berwajah menarik, tak juga jadi jaminan kesuksesan seseorang.

Butuh keberuntungan dan garis takdir yang menentukan kadang kesuksesan yang diperoleh seseorang. Sebesar apa pun usaha seseorang bila garis takdirnya tak mendukung, kesuksesan pun akan juga jauh panggang dari api. Begitupun sebaliknya. Lalu apakah kita tidak berusaha?

Inilah yang dicoba dijawab oleh serial Kalam Syarif (kajian malam bersama Dr. Moch. Syarif Hidayatullah yang dikenal juga sebagai Syarif Hade) kali ini. Mau tahu jawabannya, berikut videonya:

https://www.youtube.com/watch?v=dKfJjhBJxXw

Empat Sifat Nabi Muhammad yang Jadi Kunci Sukses Dakwahnya

Addai.or.id – Sebagai utusan Allah, Nabi Muhammad saw. dituntut harus mampu menjabarkan kepada umatnya tentang firman-firman Allah supaya mereka insaf dan mau memeluk Islam sebagai agamanya.

Nabi juga diperintahkan untuk membentengi umatnya agar keimanan dalam diri mereka tetap utuh dan kokoh. Selain itu, beliau juga harus mempertahankan kebenaran dan wahyu dari Allah agar selamat dan terbebas dari sanggahan-sanggahan orang-orang kafir dengan cara yang sebaik-baiknya.

Sungguh menakjubkan kemudian bahwa Muhammad saw. mampu mengantarkan bangsa Arab, yang awalnya bangsa tersebut dikenal sebagai bangsa yang kasar, bengis, bodoh serta terpecah-pecah dalam berbagai suku, menjadi suatu bangsa yang bersatu, berbudaya, dan berpengetahuan. Sudah barang tentu, itu semua merupakan berkat kebijaksanaan Muahammad saw. yang sungguh luar biasa.

Semua itu tak terlepas dari empat sifat penting yang ada pada diri Rasulullah, Muhammad saw. Empat sifat ini pula yang mengantarkan Nabi kepada keberhasilan menyampaikan risalah dari Allah swt. Berikut penjelasan empat sifat itu:

Pertama, sifat shidiq, artinya benar, yaitu bahwa apa yang dibawa dan disampaikan oleh Muhammad saw. adalah kebenaran yang datang dari Allah swt. Dalam hal ini Alqur’an menyatakan di dalam surah An-Najm, ayat 4-5, “Tiadalah yang diucapkannya itu menurut kemaunan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang di wahyukan kepadanya.

Kedua, sifat amanah, artinya dapat dipercaya, Maksudnya, apabila suatu urusan diserahkan kepada Muhammad saw., maka beliau akan melaksanakan urusan tersebut dengan sebaik-baiknya. Tidak heran jika sedari remaja Muhammad saw. digelari sebagai “Al-Amin”, yaitu orang yang dipercaya.

Dalam hal ini Alqur’an menjelaskan di dalam surah Al-A’raf, ayat 68, “Aku menyampaikan amanat-amanat Tuhanku kepadamu dan aku hanyalah pemberi nasihat yang terpercaya bagimu.

Ketiga, sifat tabligh, artinya menyampaikan. Maksudnya, beliau menyampaikan apa saja yang difirmankan Allah swt. kepadanya. Tidak ada yang disembunyikan secuil pun olehnya tentang kebenaran.

Dalam hal ini Alqur’an mengungkapkan di dalam surah Al-Maidah, ayat 76, “Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir”.

Keempat, sifat fathanah, yaitu sifat bijaksana. Merupakan sesuatu yang mustahil jika utusan Allah tidak berpikiran bijak. Seorang rasul harus mampu menyampaikan sekaligus menjelaskan firman-firman Allah untuk umatnya. Maka tidak heran jika kemudian puluhan ribu hadis lahir dari kebijaksanaan Muhammad saw. sebagai penjabaran dari firman-firman tersebut.

Sumber: DatDut.Com