Addai.or.id – Pada dekade belakangan, hampir semua stasiun televisi menayangkan ceramah, renungan, dan tausiah dari para dai. Sebagian dai memang muka lama, tetapi sebagian lagi adalah dai muka baru. Dai yang terakhir ini umumnya mendadak beken karena terdongkrak popularitasnya setelah mengisi salah satu acara di televisi yang beberapa tahun ini memberi banyak ruang untuk para dai.

Dai-dai ini pada banyak hal memenuhi selera yang diingini industri hiburan: muda, tampan, modis, bersuara bagus, dan pandai mengolah kata. Bekal ini pula yang turut memperlancar mereka memasuki industri hiburan. Sebagai bagian dari industri hiburan seperti televisi, para dai itu telah menjadi selebriti baru dengan komoditi bernama dakwah. Mereka terkenal, dipuja, dan diperlakukan istimewa. Karenanya, pelaku dunia usaha pun tak ragu memasang para dai sebagai citra produknya. Apalagi belakangan beberapa di antaranya mampu menjadi trendsetter atas produk yang menjadikan mereka sebagai maskotnya.

Sebagai selebriti, mereka harus patuh pada aturan-aturan baku industri hiburan. Sebelum berdakwah, mereka harus di-make up supaya enak dilihat. Tampilan fisik juga harus proporsional. Busana yang dipakai pun harus dari perancang ternama, atau busana yang disediakan para pengiklan. Ini lalu didukung dengan kecanggihan tata panggung, tata suara, dan tata cahaya yang memadai agar semuanya berjalan sempurna. Para pengawal profesional juga melengkapi citra mereka sebagai bintang. Ini belum termasuk dai yang melengkapi kegiatan dakwahnya dengan manajemen dan patokan tarif tertentu.

Nah, semua karisma artifisial ini ternyata telah menggantikan karisma dai tradisional yang disimbolkan dengan kefasihan membaca Alquran, kepiawaian mengutip sabda Nabi Muhammad, dan menyitir petuah-petuah bijak para ulama pendahulu. Saya tidak hendak mengatakan bahwa dai-dai selebriti tidak mampu menunjukkan karisma dai tradisional.

Perbedaan karisma keduanya justru terletak pada pengamalan apa yang sudah didakwahkan. Karisma dai tradisional baru akan muncul bila kesalehan verbal yang mereka sampaikan berbanding lurus dengan kesalehan aksional yang ditunjukkan dalam keseharian mereka, sementara dai selebriti tidak banyak dituntut untuk menyeimbangkan dua kesalehan ini dalam mendapatkan karismanya. Akibatnya, posisinya yang tak ubahnya seperti “penghibur”, membuat dakwahnya hanya berlalu saja tanpa meninggalkan bekas mendalam pada benak penyimaknya, alih-alih bisa mengubah perilaku masyarakat menjadi lebih baik.

 

Industri Kesalehan Verbal

Pergeseran besar di dunia dakwah (terutama yang berhubungan dengan media televisi) memang tengah dan terus berlangsung. Dakwah kini tak lagi berada di wilayah sakral yang bebas nilai. Ia dipaksa masuk menjadi bagian dari budaya pop. Dakwah bahkan sudah bukan melulu panggilan hati, tetapi sudah dianggap sebagai profesi. Tak heran bila kemudian banyak yang berbondong-bondong ingin tampil sebagai dai, bukan karena semata ingin menyampaikan ajaran agama, tetapi karena iming-iming prospek ekonominya yang kian menjanjikan.

Dengan pergeseran itu, fungsi dakwah menjadi tereduksi. Sajiannya pun terjebak pada kemasan, bukan lagi pada isi. Yang utama ditonjolkan justru unsur tontonannya. Tuntunannya hanya menjadi pengisi antarwaktu saja. Kemampuan menghibur seorang dai dijadikan ukuran utama keberhasilan berdakwah. Dakwah tidak lagi bermakna bagaimana menunjukkan masyarakat ke jalan yang sesuai dengan materi dakwah, tetapi ia lebih bermakna bagaimana memenuhi keinginan produser untuk mendapat rating tinggi. Berdakwah seolah hanya keahlian menyampaikan kesalehan verbal yang patut dikomoditikan, tanpa ada label amanah ilahiah di belakangnya. Padahal, amanah inilah yang sebetulnya menuntut mereka untuk mempraktikkan materi dakwahnya dalam kesalehan aksional sebagai wujud pertanggungjawaban sosial.

Belakangan pengutamaan kesalehan verbal ini juga semakin dianggap wajar setelah muncul acara pencarian bakat berdakwah, yang konsepnya mirip dengan acara pencarian bakat yang lain di televisi. Lazimnya acara pencarian bakat, layanan pesan singkat (SMS) dari pemirsa dijadikan sebagai patokan utama untuk mengukur kehebatan seorang dai. Fakta ini juga menambah kepercayaan diri para dai bahwa umat saat ini memang hanya membutuhkan kesalehan verbal, bukan kesalehan aksional. Apalagi secara kebetulan, rating acara-acara itu cukup bagus, karenanya ditayangkan di jam-jam utama (prime time).

 

Masuk Televisi

Kerap masuk televisi dan punya acara khusus di televisi, tentu berdampak pada kedikenalan si dai. Hal inilah yang kemudian menaikkan nilai jual yang bersangkutan, sehingga menarik pengiklan menempatkannya sebagai brand ambassador suatu produk. Tak heran bila wajah dai-dai itu pun kini berseliweran menjadi bintang iklan untuk bermacam produk.

Kalau sebelumnya sebagian hanya menjadi bintang iklan untuk produk yang masih berhubungan dengan kegiatan dakwah, belakangan mereka pun merambah ke produk-produk yang tak berhubungan langsung dengan kegiatan dakwah, seperti minuman energi, helm, kartu telekomunikasi dan bahkan suplemen khusus laki-laki.

Tidak hanya itu. Kalau sebelumnya mereka cuma menjadi pemberi tausiah di sela-sela sinetron, kini mereka bahkan terjun bebas menjadi bintang sinetron yang ikut serta memerankan tokoh tertentu dalam sinetron. Kalau sebelumnya hanya mencipta lagu atau mengisi tausiah di sela-sela lagu, kini mereka tak sungkan untuk ikut serta bernyanyi.

Selain memenuhi selera yang diingini industri hiburan, seperti muda, tampan, modis, bersuara bagus dan pandai mengolah kata, sebagian dai didukung pula dengan kemampuan melucu, bahkan ada yang menyertakan bakat berpantun, atau bermain sulap. Lalu, muncullah sebutan “ustad gaul”, “ustad pantun”, “ustad kocak”, “ustad cinta” atau “ustad ilusionis”.

Kesalehan verbal pun lalu menjadi industri yang berkembang sangat pesat. Ia berkembang dengan dukungan para dai yang semakin kreatif mengembangkan media dakwahnya untuk menebar kesalehan verbal yang mereka miliki.

Problem Dai Selebriti 

Konflik salah satu dai selebriti dengan Majelis Taklim TKI di Hongkong terkait batalnya kegiatan dakwah sang ustad di negara itu, pernah menyedot perhatian khalayak sekaligus mengundang keprihatinan banyak kalangan beberapa hari ini. Pasalnya pembatalan itu dikait-kaitkan dengan persoalan honor yang diminta oleh si ustad.

Isu soal terima honor untuk kegiatan dakwah sebetulnya sudah lama menjadi perbincangan. Pendapat para ulama mengerucut pada kebolehan menerimanya dengan ketentuan tidak ditetapkan tarifnya dan jumlahnya dalam batas yang wajar. Lain soal bila dua syarat ini tidak terpenuhi. Para ulama bersepakat tidak dibenarkan menerima honor dari kegiatan dakwah yang mematok tarif apalagi dalam jumlah yang tidak wajar.

Soal kewajaran ini memang seolah memberi celah adanya oknum-oknum ustad tertentu yang memanfaatkannya untuk mematok tarif yang disesuaikan dengan kewajaran versinya. Padahal, kewajaran di sini dimaksudkan sesuai standar norma sosial yang berlaku di lingkungan pengundang. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk menetapkan tarif dalam kegiatan dakwah, karena berdakwah sejatinya bukan profesi untuk mencari sesuap nasi, tetapi justru kewajiban bagi siapa pun yang dianugerahi pengetahuan ilmu agama untuk mengajarkannya kepada mereka yang membutuhkan.

Bila mengikuti perkembangan konflik si ustad tersebut dengan seksama, di sinilah sebetulnya ujung pangkal dari persoalan si dai seleb ini. Industri pertelevisian yang hadir memberi ruang para dai muda untuk tampil, sedikit-banyak mengalihkan kesadaran mereka dari tujuan asasi berdakwah. Akhirnya, obsesi dai-dai itu adalah tampil di stasiun televisi dengan tidak mempedulikan apakah di acara dakwah atau bukan. Dampaknya, di tahun-tahun belakangan tidak susah menemukan dai muda yang tampil di acara musik, sinetron, infotainmen, iklan dan bahkan acara sulap.

 

Disorientasi Dai Selebritis

Fenomena inilah yang saya sebut sebagai disorientasi dai selebritis. Mengapa, karena kegiatan dakwah yang mereka lakukan bukan untuk semata menyampaikan ajaran ilahi, tetapi justru menjadi batu loncatan ke kegiatan-kegiatan lain yang tak ada hubungannya dengan dakwah itu sendiri. Semakin banyak mereka tampil di televisi, di situlah mereka bisa meraih popularitas yang dapat menghantarkan mereka bisa mematok tarif lebih tinggi.

Padahal bila mau jujur, tidak banyak yang bisa didapat umat dari mereka. Ayat-ayat Alquran yang mereka kutip kebanyakan itu-itu saja. Itu pun dengan kualitas kefasihan bacaan ala kadarnya. Hadis yang disampaikan pun banyak yang palsu dan bermasalah. Dalam dakwahnya, hampir jarang juga bisa dijumpai kutipan dari kitab-kitab yang memenuhi standar sebagai rujukan dakwahnya, baik itu kitab tafsir, hadis, fikih, akhlak maupun kitab sirah. Bahkan, tak jarang mereka membubuhkan kisah-kisah masa lalu (israiliat) yang tak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya, juga humor-humor yang banyak dipaksakan.

Selain itu, lantaran sudah masuk dalam industri hiburan, maka yang mereka utamakan bukan lagi isi dakwahnya, tetapi justru tampilan luar, nilai berita dan nilai hiburan dari apa yang disampaikannya. Pada titik inilah, mereka berlomba tampil dengan ciri khas busana tertentu yang kemudian menjadi merek dagangnya. Sehingga yang diingat dari mereka bukan materi dakwahnya tetapi bagaimana cara berpakaiannya, merek pakaiannya, tampil di sinetron apa, atau muncul di infotainmen mana. Mereka akhirnya lupa meningkatkan mutu materi dakwahnya, sehingga tak ada perkembangan berarti dari kualitas dakwahnya, boro-boro dapat menyumbangkan sesuatu untuk mengubah dan memperbaiki kondisi moral-spiritual masyarakat.

Lalu, kalau sudah begini, siapa yang bersalah? Menimpakan semuanya ke pundak mereka, tentu bukanlah sesuatu yang adil. Kalau mau jujur, sedikit-banyak ada andil masyarakat dalam hal ini sehingga tanpa sadar membentuk mereka menjadi seperti itu. Betapa tidak, mereka diundang untuk berdakwah bukan lantaran kesalehan yang melekat pada diri mereka sehingga membuat mereka layak memberi tausiah, tetapi  karena mereka masuk televisi. Mereka dihadirkan bukan lantaran kedalaman keilmuan yang mereka punya, tetapi karena mereka lucu atau tiba-tiba bisa menguras air mata jamaah.

Oleh karena itu, masalah seperti ini sebaiknya dijadikan momentum untuk memperbaiki dunia dakwah yang terlanjur menjadi industri. Para dai muda diharapkan dapat mengubah strategi dakwahnya, dari yang semula mengutamakan kemasan menjadi mengutamakan isi.

Industri pertelevisian juga hendaknya tidak menjadikan tablig akbar dan talkshow yang menduetkan ustad dan komedian sebagai jualan utamanya. Karena sebetulnya masih banyak kemasan acara dakwah di televisi yang bisa dijajaki, seperti kajian tematik atau kajian kitab tertentu, sehingga materi dakwah lebih terarah dan berhasil guna. Toh, nyatanya acara-acara seperti itu juga tidak sepi peminat. Sebagai contoh, kajian Tafsir al-Misbah Qurasih Shihab atau Kajian Kitab Kuning Shahih Bukhari A. Lutfi Fathullah.

Masyarakat juga harus segera menyadari bahwa saat mengikuti acara dakwah itu bukan untuk mencari hiburan atau lelucon, tetapi untuk menambah ilmu dan mendapat pencerahan baik secara moral maupun spiritual. Masyarakat harus diberi informasi bahwa yang terpenting adalah teladan, bukan omongannya. Dan, teladan itu hanya bisa kita ambil dari orang-orang yang betul-betul kita tahu kesehariannya. Karena, dakwah itu bukan acara dangdutan atau konser musik, yang hanya untuk hiburan sesaat. Dakwah adalah soal menanamkan nilai yang mengakar di kepala lalu bisa diamalkan di dunia nyata.

Di sinilah pentingnya segera mengembalikan dakwah ke fungsinya yang asasi agar nilai sakralitas ajaran agama tetap terjaga. Berdakwah bukanlah profesi. Kemuliaan berdakwah tidak sepatutnya dinodai oleh oknum dai yang hanya menjadi stempel kisah-kisah mistik di televisi, apalagi sampai berani mengutipkan dalil baik dari Alquran dan hadis untuk membenarkan cerita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Umat butuh dai yang bisa membimbing dan membenahi masyarakat, setelah lebih dulu membimbing dan membenahi dirinya sendiri. Bangsa ini menanti orang-orang yang mendakwahkan agama tanpa pamrih, istikamah, dan sepenuh hati. Masyarakat merindukan dai yang mampu memberi contoh terhadap apa yang disampaikan, bukan dai jarkoni (bisa berujar tapi tidak bisa ngelakoni). Dari merekalah bisa diharapkan permasalahan umat terbenahi. Sayangnya orang-orang seperti ini tidak banyak diminati pengelola televisi.

[ABTM id=244]

Leave a comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *